Senin, 13 April 2026 - 17:10 WIB
VIVA –Setelah 16 tahun memimpin Hungaria, Viktor Orbán, resmi kalah dalam pemilihan umum parlemen dan mengakui kekalahan dari oposisi yang dipimpin Péter Magyar, Minggu, 12 April 2025.
Hasil pemilu menunjukkan kubu oposisi meraih mayoritas suara, mengakhiri dominasi panjang Orbán sejak 2010. Pemilu ini mencatat partisipasi tinggi dan dinilai sebagai momen penting perubahan politik di Hungaria, setelah bertahun-tahun diwarnai isu ekonomi domestik dan hubungan dengan Uni Eropa.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kemenangan oposisi membuka babak baru dalam pemerintahan Hungaria. Kepemimpinan baru diperkirakan akan membawa perubahan arah kebijakan, termasuk dalam hubungan internasional dan reformasi di dalam negeri.
Orbán mengucapkan selamat kepada Magyar dalam pidato konsesi kurang dari tiga jam setelah pemungutan suara ditutup. Penghitungan suara awal menunjukkan kemungkinan mayoritas dua pertiga untuk Magyar dan Tisza.
Jika itu terjadi, ia akan dapat membatalkan perubahan konstitusional yang dibuat oleh Orbán untuk melemahkan independensi peradilan dan memperkuat kendali partai Fidesz atas politik Hungaria.
Berbicara kepada ribuan pendukung yang mengibarkan bendera Hungaria, Magyar yang berusia 45 tahun mengutip John F. Kennedy dengan menyatakan: "Hari ini kita menang karena rakyat Hungaria tidak bertanya apa yang dapat dilakukan negara mereka untuk mereka, tetapi apa yang dapat mereka lakukan untuk negara mereka." kata Magyar melansir NPR, Senin.
Saat kerumunan meneriakkan "Tisza bangkit," Magyar membandingkan momen penting ini dengan revolusi Hungaria tahun 1848 dan pemberontakan tahun 1956 melawan Uni Soviet. Para pendukung juga meneriakkan, "Rusia, pulanglah!"
Pemungutan suara ini dianggap penting bagi Eropa dan Ukraina, karena Orbán yang pro-Kremlin sering berselisih dengan mitra Uni Eropa, terutama mengenai pendanaan anggaran Kyiv dan upaya perang. Orbán juga menghadapi tuduhan korupsi dan penyalahgunaan dana Uni Eropa, yang ia bantah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kampanye tersebut menarik perhatian internasional, dengan Wakil Presiden AS JD Vance tampil bersama Orbán, dan Presiden Trump menelepon ke rapat umum yang diadakan oleh pria yang menginginkan Hungaria menjadi demokrasi "illiberal".
Saat Orbán meninggalkan jabatannya, Kremlin kehilangan sekutu di jantung Eropa dan Ukraina dapat berharap melihat pemimpin baru Hungaria mencabut veto Budapest saat ini terhadap bantuan keuangan Uni Eropa senilai 90 miliar euro untuk Kyiv.
Netanyahu Perintahkan Militer Israel Perluas Invasi Darat ke Lebanon, Singgung 'Pertolongan Tuhan'
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menginstruksikan militernya untuk memperluas lebih lanjut zona penyangga keamanan yang ada di Lebanon selatan
VIVA.co.id
30 Maret 2026

1 week ago
8



























