Jakarta, VIVA – Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama di tingkat rumah tangga. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, dari lebih dari 37 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahun, sekitar 58 persen rumah tangga belum melakukan pemilahan sampah secara konsisten. Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya tingkat daur ulang nasional yang baru menyentuh angka sekitar 14 persen.
Minimnya pemilahan di sumber membuat sampah yang seharusnya masih memiliki nilai guna tercampur dan sulit diproses kembali. Akibatnya, beban tempat pemrosesan akhir (TPA) meningkat, risiko pencemaran tanah dan air bertambah, serta potensi ekonomi dari material daur ulang tidak tergarap optimal. Kemasan plastik, misalnya, menyumbang sekitar 19 persen dari total timbulan sampah nasional. Tanpa pemilahan yang baik, plastik bernilai daur ulang tinggi pun berakhir di TPA atau bahkan mencemari lingkungan. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tak hanya itu, sekitar 40 persen sampah di Indonesia tercatat belum terkelola secara optimal. SIPSN juga menunjukkan hanya 30 persen sampah yang dikelola melalui sistem formal pemerintah daerah. Artinya, sebagian besar pengelolaan sampah masih bergantung pada praktik informal atau bahkan tidak tertangani sama sekali. Ketika sampah tidak dipilah sejak awal, rantai pengelolaan berikutnya menjadi lebih mahal, rumit, dan kurang efisien.
Pengamat lingkungan menilai persoalan ini bukan semata soal kesadaran individu, melainkan juga keterbatasan sistem yang belum terintegrasi. Infrastruktur pemilahan dan pengumpulan terpisah masih belum merata. Di sisi lain, edukasi publik mengenai pentingnya memilah sampah dari rumah belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Dalam konteks inilah berbagai inisiatif kolaboratif mulai digalakkan. Salah satunya melalui ajang #GreenGeneration Sustainability Business Case Competition yang digelar oleh Nestlé Indonesia. Kompetisi tersebut mendorong mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk merancang solusi sistemik terkait pengelolaan kemasan pascakonsumsi.
Technical Director Nestlé Indonesia, Antonio Prochilo, menyatakan bahwa ide-ide mahasiswa yang berbasis riset dan pemahaman lapangan menjadi angin segar dalam upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah.
"Hal yang paling menginspirasi kami saat ini adalah melihat semangat dan pemikiran kritis para mahasiswa yang selaras dengan tujuan kami. Mereka menghadirkan ide-ide berbasis riset yang tidak hanya memperkaya perspektif kami, tetapi juga mendorong kami untuk terus berkembang dan melangkah lebih jauh," ujar Antonio dalam keterangannya, dikutip Selasa 24 Februari 2026.
Halaman Selanjutnya
"Kreativitas dan kedalaman analisis mereka membuktikan bahwa generasi penerus siap menjadi mitra strategis dalam menghadirkan solusi yang relevan, aplikatif, dan berdampak nyata bagi masa depan. Saya menyampaikan apresiasi dan selamat kepada para pemenang kompetisi business case ini, serta kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi. Setiap kontribusi yang diberikan menghadirkan wawasan berharga yang semakin memperkuat dan mempercepat perjalanan keberlanjutan kami demi generasi mendatang," sambungnya.

8 hours ago
3










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483201/original/035595200_1769341364-WhatsApp_Image_2026-01-25_at_17.53.37.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483119/original/012006700_1769331674-WhatsApp_Image_2026-01-25_at_15.28.21.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5488987/original/040536100_1769773426-Nobel.jpeg)
