Ali Masykur Musa Pimpin International Naqshabandi Council Bawa Mandat Perdamaian dan Jejaring Tasawuf Dunia

4 hours ago 3

Senin, 21 September 2026 - 14:51 WIB

Jakarta, VIVA – Dalam rangkaian 6th International Naqshbandi Festival & 2nd International Naqshabandi Conference di Bukhara, Uzbekistan, Ali Masykur Musa, mendapat amanah baru dalam jaringan tasawuf internasional. Dia terpilih secara aklamasi sebagai Chairman International Naqshabandi Council (INC).

Pemilihan berlangsung pada 19 September 2026 di Bukhara State Technical University, dalam pertemuan yang menurut keterangan tertulis Ali dihadiri para pengamal, ulama, mursyid, akademisi dan delegasi Naqshbandi dari 14 negara. Forum itu sekaligus menjadi momentum pembacaan Deklarasi Piagam Bukhara, yang menandai berdirinya International Naqshabandi Council. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi Ali Masykur, posisi tersebut bukan sekadar jabatan kehormatan. Amanah yang diterimanya membawa tanggung jawab membangun komunikasi dan persaudaraan Naqshbandi lintas negara sekaligus mempertemukan keragaman tradisi dan komunitas yang tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda-beda.

“Amanah ini bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan jalan pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujar Ali Masykur dikutip dari keterangannya, Senin, 21 September 2026.

Ali Masykur saat ini juga menjabat Komisaris Independen PT PLN (Persero) serta memimpin JATMAN (Mudir ‘Ali Idarah ‘Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah). Jabatan Komisaris Independen PLN diembannya sejak November 2024 dan hingga kini tercatat dalam susunan Dewan Komisaris perusahaan.

Lahirnya INC memberi dimensi baru pada pertemuan Naqsyabandiyah internasional di Bukhara. Naqsyabandiyah merupakan tradisi tasawuf yang tumbuh dari Asia Tengah dan berkembang melampaui kawasan asalnya. Sejak beberapa abad silam, jaringan ini menyebar melalui hubungan ulama, pusat-pusat keilmuan dan jalur mobilitas masyarakat menuju Asia Selatan, Asia Kecil dan kawasan lainnya. Kajian historis terbaru juga menunjukkan peran jaringan perdagangan dan jalur penting  dalam penyebaran tradisi Naqsyabandiyah keluar dari Asia Tengah. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kota yang berada di jalur bersejarah Silk Roads itu telah berusia lebih dari dua milenium. UNESCO mencatat Bukhara selama berabad-abad menjadi pusat penting kebudayaan Islam dan, antara abad ke-9 hingga ke-16, berkembang sebagai salah satu pusat besar teologi Islam, khususnya tasawuf. Pusat sejarah Bukhara masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1993. 

Bukhara dan wilayah di sekitarnya juga tidak dapat dipisahkan dari Khwaja Bahauddin Naqshband, tokoh abad ke-14 yang namanya kemudian melekat pada tradisi Naqsyabandiyah. Bukhara sendiri mempunyai posisi khusus dalam sejarah tersebut. Di kawasan inilah Bahauddin Naqshband hidup dan dimakamkan. Kompleks makamnya hingga kini menjadi salah satu situs spiritual penting di Uzbekistan dan mencakup makam, khanqah, masjid, nekropolis serta museum sejarah tasawuf. 

Halaman Selanjutnya

Karena itu, pembentukan sebuah council internasional di Bukhara membawa simbolisme tersendiri: jaringan yang dahulu berkembang dari Asia Tengah kini kembali berkumpul di salah satu akar sejarahnya untuk merumuskan bentuk kerja sama pada zaman yang berbeda.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |