VIVA – Jerawat sering kali dikaitkan dengan penggunaan skincare yang tidak tepat. Tidak sedikit orang kemudian mencoba berbagai produk untuk mengatasi kulit berjerawat, tetapi masalah tersebut tetap muncul berulang kali. Kondisi ini sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan produk perawatan kulit, tetapi juga melibatkan berbagai faktor biologis, termasuk mikroorganisme yang secara alami hidup di permukaan kulit.
Istilah mikrobioma kulit pun semakin banyak dibicarakan dalam penelitian dermatologi. Lantas, apa sebenarnya mikrobioma kulit dan bagaimana kaitannya dengan wajah yang mudah berjerawat?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
1. Mikrobioma kulit merupakan ekosistem mikroorganisme
Mikrobioma kulit dapat dipahami sebagai komunitas mikroorganisme beserta materi genetik dan lingkungan tempat mereka hidup di kulit. Komunitas tersebut terdiri atas berbagai jenis mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, dan mikroorganisme lainnya.
Melansir laman PubMed, mikroorganisme kulit tidak sekadar berada di permukaan kulit, tetapi berinteraksi dengan jaringan kulit dan sistem kekebalan tubuh. Komunitas tersebut turut berkaitan dengan fungsi skin barrier atau lapisan pelindung kulit.
Komposisi mikrobioma juga tidak selalu sama pada setiap bagian tubuh. Kondisi kulit yang berbeda, seperti tingkat kelembapan, kekeringan, serta banyaknya produksi sebum, dapat memengaruhi jenis mikroorganisme yang hidup di suatu area.
2. Tidak semua mikroorganisme di kulit merugikan
Keberadaan bakteri pada kulit tidak otomatis berarti kulit sedang kotor atau mengalami masalah. Sebagian mikroorganisme merupakan penghuni normal yang hidup berdampingan dengan tubuh dan membantu mempertahankan keseimbangan lingkungan kulit.
Salah satu bakteri yang banyak ditemukan pada area kulit yang kaya sebum adalah Cutibacterium acnes. Bakteri ini dahulu dikenal dengan nama Propionibacterium acnes. Menariknya, bakteri tersebut juga ditemukan pada kulit yang sehat.
Karena itu, munculnya jerawat tidak dapat dijelaskan hanya dengan anggapan bahwa jumlah C. acnes meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis atau strain bakteri serta keseimbangan keseluruhan komunitas mikroorganisme juga dapat berperan.
3. Ketidakseimbangan mikrobioma dapat berkaitan dengan jerawat
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam penelitian mikrobioma, istilah dysbiosis digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika keseimbangan komunitas mikroorganisme mengalami perubahan.
Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara perubahan mikrobioma kulit dan jerawat. Salah satu kajian menyebutkan bahwa jerawat berkaitan dengan hilangnya keragaman jenis atau strain C. acnes tertentu, bukan sekadar keberadaan bakteri tersebut. Perubahan komunitas mikroorganisme dapat berhubungan dengan aktivasi respons imun dan peradangan pada kulit.
Halaman Selanjutnya
Meski demikian, hubungan antara mikrobioma dan jerawat masih terus diteliti. Para peneliti belum dapat menyederhanakan jerawat sebagai akibat dari satu jenis mikroorganisme saja karena prosesnya melibatkan interaksi antara mikroorganisme, kondisi kulit, sistem imun, serta faktor lainnya.

15 hours ago
4





















