AS Kaji Rencana Agresi Besar-besaran ke Iran Demi Rebut Uranium yang Diperkaya

4 hours ago 3

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:00 WIB

Jakarta, VIVA – Amerika Serikat (AS) sedang mengkaji kemungkinan operasi besar dengan melibatkan ribuan personel militer, untuk merebut persediaan uranium yang diperkaya dari fasilitas nuklir Iran.

Hal itu disampaikan seorang sumber militer dalam pengakuannya di surat kabar konservatif The New York Post, dalam laporan yang dikeluarkan pada Sabtu, 25 Juli 2026 kemarin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saya benci mengatakannya, tetapi saya pikir cara terbaik untuk menyingkirkan material nuklir Iran, sekurangnya dengan apa yang mereka kuasai sekarang, adalah melalui operasi militer karena negosiasi saat ini mandek," kata sumber tersebut, dikutip Minggu, 26 Juli 2026.

Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih

Operasi tersebut akan meliputi penyerbuan fasilitas nuklir Iran oleh ribuan personel darat, yang akan menjinakkan jebakan-jebakan, mengerahkan tim teknis, serta mendirikan garis pertahanan mengelilingi lokasi target mereka.

Sebuah tim kecil dari pasukan khusus kemudian akan mengambil langsung uranium yang ada di sana. Menurut laporan tersebut, fase itu akan menjadi bagian paling berbahaya dari seluruh agresi militer itu.

Apabila rencana tersebut benar-benar dilaksanakan, maka personel AS harus membersihkan puing-puing pintu masuk fasilitas yang mereka hancurkan sembari mempertahankan posisi mereka dari serangan pasukan Iran.

Selain itu, AS juga harus memegang kendali penuh terhadap koridor lalu lintas udara, agar pesawat militernya dapat mendarat di lokasi aman untuk operasi tersebut.

Sebelumnya, pada Kamis, 23 Juli 2026, sumber dari militer Iran menyampaikan angkatan bersenjata mereka telah melakukan pelatihan terhadap sejumlah skenario serangan militer AS, dan bersiap menghadapi invasi darat AS.

Pada 18 Juni 2026 lalu, AS dan Iran telah menandatangani memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026. Namun, pasukan AS kembali melancarkan serangan ke Iran mulai 8 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Pasukan Iran pun merespons serangan AS dengan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Presiden Trump kemudian mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tak lagi berlaku. (Ant).

Presiden AS Donald Trump

Sebut Iran Makin Serius Negosiasi dengan AS, Trump Buka Suara soal Opsi Agresi Militer

Trump mengklaim, Iran menunjukkan komitmen terkuatnya dalam negosiasi dengan AS, namun mengaku belum memutuskan untuk melancarkan agresi militer besar-besaran terhadapnya

img_title

VIVA.co.id

26 Juli 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |