Minggu, 26 Juli 2026 - 17:48 WIB
Jakarta, VIVA – Untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19, China gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunannya, yang menggarisbawahi tantangan struktural yang semakin besar yang dihadapi ekonomi terbesar kedua di dunia.
Dilansir dari Mekong News, kinerja yang lebih lemah dari perkiraan menunjukkan bahwa pemulihan yang dipimpin ekspor Beijing tidak lagi cukup untuk mengimbangi permintaan domestik yang lemah, penurunan pasar properti yang berkepanjangan, dan meningkatnya ketidakpastian eksternal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Biro Statistik Nasional China pada hari Rabu melaporkan bahwa perekonomian tumbuh 4,3% pada kuartal April-Juni dibandingkan tahun sebelumnya, di bawah ekspektasi pasar sebesar 4,5% dan di bawah target pertumbuhan Beijing sebesar 4,5-5% untuk tahun 2026.
Kegagalan ini signifikan karena China secara tradisional telah memenuhi atau hampir mencapai target pertumbuhan resminya melalui investasi agresif yang dipimpin negara dan intervensi kebijakan. Satu-satunya pengecualian dalam beberapa tahun terakhir adalah tahun 2020, ketika tidak ada target yang diumumkan karena pandemi COVID-19.
Data terbaru mencerminkan ketidakseimbangan yang semakin melebar dalam perekonomian Tiongkok. Meskipun ekspor terus menunjukkan kinerja yang kuat, didukung oleh permintaan global untuk semikonduktor, elektronik, dan produk teknologi canggih lainnya, konsumsi domestik tetap lesu.
Kemerosotan pasar perumahan yang berkepanjangan, penurunan harga properti, dan pasar kerja yang tidak pasti telah melemahkan kepercayaan rumah tangga, sehingga menghambat pengeluaran konsumen meskipun terjadi ekspansi ekonomi yang stabil.
Menyadari kelemahan ini, Beijing pekan ini meluncurkan strategi konsumsi komprehensif lima tahun pertamanya, yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan ritel tahunan menjadi hampir $9 triliun pada tahun 2030. Langkah ini menandakan pengakuan bahwa pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak dapat selamanya hanya bergantung pada manufaktur dan ekspor saja.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Data investasi menunjukkan gambaran yang lebih mengkhawatirkan. Investasi aset tetap mengalami kontraksi sebesar 5,7% pada semester pertama tahun ini, sementara investasi properti anjlok sebesar 18%, menyoroti terus memburuknya dua sektor yang secara tradisional mendorong ekspansi ekonomi Tiongkok.
Meskipun belanja infrastruktur publik terus meredam perlambatan, para ekonom memperingatkan bahwa investasi negara saja tidak dapat menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan jika investasi swasta dan pengeluaran rumah tangga tetap lemah.
Halaman Selanjutnya
Kontras dengan kuartal pertama, ketika China mencatat ekspansi yang kuat sebesar 5%, menggambarkan semakin terlihatnya "ekonomi dua jalur". Ekspor manufaktur dan teknologi kelas atas terus berkembang, tetapi ekonomi domestik secara keseluruhan tetap rapuh.

3 hours ago
4











