Jakarta, VIVA – Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat mendadak menjadi sorotan nasional usai potongan video babak final viral di media sosial. Ajang pendidikan yang melibatkan pelajar SMA itu menuai polemik karena adanya dugaan ketidakadilan penilaian dari dewan juri terhadap salah satu peserta.
Peristiwa tersebut memicu protes publik, membuat pimpinan MPR RI turun tangan, hingga berujung pada evaluasi besar-besaran terhadap sistem perlombaan dan dewan juri. Berikut rangkaian awal mula polemik LCC 4 Pilar hingga perkembangan terbarunya, sebagaimana dirangkum pada Jumat, 15 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
1. Polemik bermula dari sesi rebutan jawaban
Final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat digelar di Pontianak pada Sabtu, 9 Mei 2026. Tiga sekolah yang lolos ke babak akhir yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Kontroversi muncul ketika dewan juri memberikan pertanyaan rebutan mengenai lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota BPK.
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menjawab. Salah satu siswi menyampaikan bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Namun, jawaban tersebut justru dinilai salah dan membuat regu itu mendapat pengurangan poin minus lima.
2. Jawaban serupa justru diberi nilai penuh
Setelah Regu C dinyatakan salah, pertanyaan yang sama kembali dilempar ke peserta lain. Regu B dari SMAN 1 Sambas kemudian memberikan jawaban yang substansinya dianggap sama.
Kali ini, dewan juri justru memberikan poin penuh karena menganggap inti jawaban sudah benar. Situasi itu langsung diprotes peserta dari SMAN 1 Pontianak karena merasa telah memberikan jawaban identik.
Peserta dari SMAN 1 Pontianak juga meminta audiens memperhatikan bahwa mereka sebelumnya sudah menyebut unsur “pertimbangan DPD” dalam jawaban.
3. Juri menilai artikulasi peserta tidak terdengar jelas
Juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat
Photo :
- Tangkapan Layar YouTube MPR RI
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dewan juri tetap mempertahankan keputusan awal. Mereka beralasan unsur “pertimbangan DPD” tidak terdengar jelas saat jawaban pertama disampaikan. Salah satu anggota dewan juri, Indri Wahyuni, kemudian menyoroti pentingnya artikulasi peserta saat menjawab soal.
“Kan sudah diingatkan dari awal, artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas, dewan juri kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima,” katanya.
Halaman Selanjutnya
Pernyataan tersebut justru makin ramai diperbincangkan setelah video protes peserta viral di media sosial.

5 hours ago
3











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)