Piala Dunia 2026 Baru Dimulai, FIFA Sudah Dipermalukan Donald Trump

3 hours ago 3

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:00 WIB

VIVA – Piala Dunia 2026 baru saja bergulir, namun kontroversi di luar lapangan sudah lebih dulu mencuri perhatian. Di tengah euforia kemenangan telak Amerika Serikat atas Paraguay dan pesta sepak bola terbesar dunia yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara, FIFA justru dihadapkan pada situasi yang berpotensi merusak citra turnamen.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi sorotan setelah berbagai kebijakannya dinilai bertentangan dengan semangat inklusivitas yang selama ini dikampanyekan FIFA.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ironisnya, persoalan tersebut muncul saat Amerika Serikat berstatus sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko.

Di atas lapangan, tim nasional Amerika Serikat tampil meyakinkan dengan mengalahkan Paraguay 4-1 dalam laga pembuka Grup D. Kemenangan tersebut bahkan menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya The Stars and Stripes mampu mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.

Namun, keberhasilan itu tak sepenuhnya menjadi pusat perhatian. Publik justru menyoroti absennya Trump dari stadion saat tim nasional negaranya menjalani pertandingan perdana.

Padahal, dalam tradisi Piala Dunia, pemimpin negara tuan rumah hampir selalu hadir untuk memberikan dukungan langsung sekaligus menunjukkan kebanggaan nasional di hadapan dunia.

Trump beralasan memiliki agenda yang padat. Namun sejumlah pengamat politik menilai ada faktor lain yang membuatnya memilih tidak hadir, yakni potensi mendapat respons negatif dari publik.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Photo :

  • REUTERS/Kylie Cooper

Pertandingan berlangsung di Los Angeles, California, wilayah yang dikenal sebagai salah satu basis kuat pendukung Partai Demokrat, lawan politik Partai Republik yang dipimpin Trump.

Kebijakan Trump Berseberangan dengan Semangat FIFA

Masalah yang lebih besar bagi FIFA bukanlah absennya Trump dari stadion, melainkan sejumlah kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang dianggap bertolak belakang dengan pesan persatuan yang ingin dibangun melalui Piala Dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak awal, Presiden FIFA, Gianni Infantino, berulang kali menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 harus menjadi simbol keterbukaan dan persatuan global. Apalagi turnamen kali ini diperluas menjadi 48 peserta, jumlah terbanyak sepanjang sejarah.

Namun kenyataan di lapangan justru berbeda. Sejumlah negara peserta dikabarkan mengalami kesulitan terkait proses masuk ke Amerika Serikat. Bahkan beberapa anggota delegasi dan tim nasional disebut mendapatkan pemeriksaan ketat yang dinilai berlebihan.

Halaman Selanjutnya

Kontroversi semakin membesar ketika Amerika Serikat menolak memberikan akses kepada wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, meskipun ia telah mengantongi visa diplomatik dan rekomendasi resmi FIFA untuk bertugas di Piala Dunia.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |