Selasa, 28 Juli 2026 - 21:08 WIB
Jakarta, VIVA – Selama bertahun-tahun, India berpendapat bahwa rencana China untuk membangun proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia di Yarlung Tsangpo bukan hanya tantangan teknik, tetapi juga pertaruhan strategis dan lingkungan.
Beijing secara konsisten menolak kekhawatiran ini, dengan menyatakan bahwa proyek tersebut direncanakan secara ilmiah dan tidak menimbulkan risiko hilir yang signifikan. Ironisnya, validasi terkuat atas kekhawatiran tersebut kini datang dari dalam China sendiri.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebuah studi terbaru oleh para peneliti dari Universitas Teknologi Chengdu dan Survei Geologi Tiongkok telah mengonfirmasi bahwa Patahan Paizhen, sebuah patahan tektonik aktif, membentang tepat di bawah proyek pembangkit listrik tenaga air Medog di Tibet.
Tim geologi tersebut menggambarkan formasi batuan di sekitarnya sebagai batuan yang longgar, berikatan lemah, dan rentan terhadap longsor akibat perendaman air yang berkepanjangan dan aktivitas tektonik yang berkelanjutan.
Mereka juga mencatat bahwa patahan tersebut tetap aktif sejak zaman Pleistosen dan terus menghasilkan aktivitas seismik, termasuk gempa bumi berkek magnitude 6,9 yang melanda tepi utaranya pada tahun 2017.
Ini bukanlah peringatan spekulatif yang dikeluarkan oleh kritikus eksternal. Peringatan ini berasal dari para ahli geologi Tiongkok yang mengerjakan sebuah studi yang didukung Beijing.
Penilaian mereka menimbulkan pertanyaan yang kurang nyaman tentang ketahanan struktural proyek yang diperkirakan menelan biaya sekitar US$137 miliar dan berlokasi hanya sekitar 50 kilometer dari perbatasan India.
Proyek Medog sering digambarkan sebagai tonggak sejarah lain dalam kisah infrastruktur China yang luar biasa. Proyek ini dimaksudkan untuk menghasilkan listrik lebih dari tiga kali lipat dari Bendungan Tiga Ngarai dan mendukung ambisi ganda Beijing yaitu keamanan energi dan netralitas karbon.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, mereduksi proyek ini menjadi kisah sukses energi terbarukan mengabaikan poin yang jauh lebih besar. Ini bukan sekadar bendungan, tetapi upaya untuk membentuk kembali salah satu sistem sungai paling strategis di Asia melalui intervensi teknik dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pegunungan Himalaya bagian timur termasuk di antara pegunungan termuda dan paling tidak stabil secara geologis di dunia. Pegunungan ini terletak di titik tumbukan lempeng tektonik India dan Eurasia, sehingga wilayah ini sangat rentan terhadap gempa bumi, tanah longsor, dan bahaya gletser.
Halaman Selanjutnya
Tidak seperti banyak proyek pembangkit listrik tenaga air yang dibangun di medan yang relatif stabil, bendungan Medog sedang dibangun di lingkungan di mana lanskap itu sendiri terus bergerak.

5 hours ago
1











