Bitcoin Anjlok ke Level US$67.000 Usai Data Tenaga Kerja AS Melampaui Ekspektasi

4 weeks ago 10

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:02 WIB

Jakarta, VIVA – Harga Bitcoin mengalami tekanan pada perdagangan Rabu waktu setempat, 12 Februari 2026. Penurunan tajam menyusul laporan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) untuk bulan Januari 2026 lebih kuat dari perkiraan pasar yang memicu spekulasi  Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga.

Bitocin ditutup anjlok sekitar 2 persen ke level US$67.415,7 atau sekitar Rp 1,13 miliar (estimasi kurs Rp 16.840 per dolar AS) pada pukul 18:00 ET.  Sebelumnya, koin kripto termahal di dunia ini sempat menunjukkan kenaikan (rebound) setelah mendekati level US$60.000 padan pekan lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sayangnya, Bitcoin masih kesulitan mempertahankan posisi di atas level US$70.000. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas yang masih tinggi serta sentimen pasar kripto yang rapuh di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.

Penurunan juga terjadi di pasar altcoin. Ethereum yang merupan ast kripto terbesar kedua setelah Bitcin terjun 3,4 persen ke level US$1.952,84 lalu XRP melemah 2,1 persen menjadi US$1,37. 

Sementara itu, Solana dan Cardano masing-masing terkoreksi 4,2 persen dan 2,1 persen. Di jajaran meme coin, Dogecoin terpantau merosot sekitar 2 persen.

Kini, pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat, 13 Februari 2026. Data inflasi ini  menjadi penentu arah kebijakan moneter AS ke depan sekaligus menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan aset berisiko seperti Bitcoin.

Secara teori, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dan suku bunga rendah biasanya mendukung aset berisiko karena menurunkan opportunity cost dari memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas dan Bitcoin. Pada siklus kali ini, harga Bitcoin tetap tertahan meski The Fed telah melakukan pemangkasan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dikutip Trading View pada Kamis, 12 Februari 2026, Analis melihat sejumlah faktor yang membebani kinerja Bitcoin. Mulai dari likuiditas yang menyusut, melemahnya minat investor institusi, serta berkurangnya spekulasi.

Dengan sentimen yang masih berhati-hati dan fokus pasar tertuju pada data inflasi AS, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek diperkirakan tetap fluktuatif, terutama jika ekspektasi suku bunga AS kembali berubah.

Bitcoin.

Ngeri! Analis Ramal Harga Bitcoin Ambruk hingga Rp0, Kok Bisa?

Pasar kripto kembali diguncang. Bitcoin, aset digital terbesar di dunia, mengalami tekanan hebat dalam sepekan terakhir hingga memicu prediksi ekstrem sejumlah analis.

img_title

VIVA.co.id

11 Februari 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |