Dampak Perang AS-Israel vs Iran Meluas, Pasokan Beras Asia Mulai Terancam

3 hours ago 1

Senin, 13 April 2026 - 13:45 WIB

Jakarta, VIVA – Dampak perang di Timur Tengah mulai merembet ke sektor pangan global. Konflik yang melibatkan Iran kini memicu krisis baru di Asia Tenggara, khususnya terhadap produksi beras yang menjadi makanan pokok bagi miliaran orang.

Gangguan pasokan bahan bakar dan pupuk akibat ketidakpastian di Selat Hormuz, membuat para petani kesulitan menjalankan aktivitas pertanian. Jalur ini merupakan rute penting distribusi energi dan bahan baku pertanian ke kawasan Asia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di berbagai negara Asia Tenggara, jutaan petani kecil kini menghadapi lonjakan biaya produksi. Harga pupuk dan solar meningkat tajam, bahkan dalam beberapa kasus mencapai dua hingga tiga kali lipat. 

Kondisi ini membuat banyak petani mulai mempertimbangkan untuk mengurangi produksi atau bahkan tidak menanam sama sekali.

Di Thailand, sebagian petani dilaporkan membiarkan padi yang sudah siap panen tetap di sawah karena biaya panen terlalu mahal. Sementara itu, di negara lain, petani mulai menunda musim tanam karena ketidakpastian harga dan pasokan.

Direktur BRM Agro di Kamboja, Patrick Davenport, menggambarkan situasi yang semakin menekan petani. "Ada banyak petani yang panik. Sebagian besar terlibat dalam pertanian dan mereka semua sedang terpukul," ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Business Times, Senin, 13 April 2026.

Krisis ini menjadi perhatian serius karena beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia. Selain itu, sektor pertanian juga menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat pedesaan di Asia Tenggara.

Meski biaya produksi meningkat, harga beras global justru masih relatif rendah. Harga acuan beras putih Thailand bahkan sempat menyentuh level terendah dalam satu dekade, yakni di bawah US$400 per ton atau sekitar Rp6.800.000. Hal ini semakin menekan margin keuntungan petani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ekonom utama di Food and Agriculture Organization, Máximo Torero, memperingatkan dampak yang lebih luas jika gangguan pasokan terus berlanjut. "Margin sangat ketat, dan itu berarti mereka akan menanam lebih sedikit," ungkapnya. 

Ia menambahkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlangsung 20 hingga 30 hari lagi, dampaknya terhadap ketersediaan pangan bisa mulai terasa pada paruh kedua tahun ini. "Saya tidak melihat solusi lain, (selain dibukanya kembali jalur tersebut)," paparnya. 

Halaman Selanjutnya

Di Filipina, salah satu importir beras terbesar dunia, produksi diperkirakan turun signifikan. Manajer nasional Federation of Free Farmers Cooperatives, Raul Montemayor, menyebut output beras bisa turun setidaknya 10 persen tahun ini. Penurunan ini setara dengan sekitar dua juta ton dari total produksi nasional yang diproyeksikan mencapai 20,3 juta ton.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |