Senin, 1 Juni 2026 - 21:00 WIB
Jakarta, VIVA – Dominasi China dalam industri pemalsuan global telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi perdagangan internasional dan perlindungan konsumen. Laporan 2025 Review of Notorious Markets for Counterfeiting and Piracy yang diterbitkan otoritas perdagangan internasional kembali menempatkan China sebagai sumber utama barang palsu di dunia.
Menurut laporan tersebut, produk palsu yang berasal dari China, termasuk Hong Kong, menyumbang sekitar 93 persen dari total nilai barang pelanggar hak kekayaan intelektual yang disita sepanjang 2024. Angka yang sangat tinggi ini menunjukkan betapa besarnya skala peredaran barang palsu dan bagaimana praktik tersebut telah mengakar dalam sistem ekonomi China.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Laporan itu mengidentifikasi 37 pasar daring dan 32 pasar fisik di berbagai negara yang menjadi pusat perdagangan barang palsu. Sejumlah lokasi di China tercatat sebagai pusat distribusi terbesar, antara lain Pusat Perdagangan Kulit Baiyun, Mal Elektronik Huaqiangbei, Kota Komersial Luohu, Pasar Kinsun, dan Pasar Wu'ai.
Meski jumlah pengunjung beberapa pasar tersebut dilaporkan menurun, aktivitasnya masih berlangsung. Banyak di antaranya kini berfungsi sebagai pusat distribusi untuk penjualan daring sekaligus tempat memamerkan sampel produk sebelum dipasarkan secara luas melalui internet.
Memang, sejumlah negara lain seperti Meksiko, Argentina, Peru, Rusia, Turki, Vietnam, Brasil, Kamboja, Kanada, Kolombia, Indonesia, Malaysia, Paraguay, Filipina, Thailand, dan Uni Emirat Arab juga tercatat memiliki masalah serupa. Namun, tidak ada yang mampu menandingi skala industri pemalsuan yang berkembang di China.
Negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Uni Eropa, menjadi pihak yang paling terdampak oleh membanjirnya barang palsu tersebut. Otoritas bea cukai di berbagai negara secara rutin menggagalkan penyelundupan produk tiruan, mulai dari barang mewah hingga elektronik dan mainan anak-anak.
Pada Januari 2025, aparat Amerika Serikat menyita produk palsu bermerek Chanel dan Louis Vuitton senilai sekitar 300.000 dolar AS yang berasal dari China. Pada November tahun yang sama, mainan palsu senilai 775.000 dolar AS berhasil disita di Virginia. Sementara itu, pada Juni 2025, petugas di Louisville menggagalkan masuknya 2.193 perhiasan palsu yang dikirim dari China dan Hong Kong.
Halaman Selanjutnya
Meski demikian, penyitaan tersebut diyakini hanya sebagian kecil dari keseluruhan arus barang palsu yang beredar di pasar global. Jutaan produk tiruan diperkirakan masih lolos dari pengawasan dan akhirnya sampai ke tangan konsumen.

4 hours ago
1















