Dominasi Dunia Kerja, Generasi Milenial Didorong Isi Posisi C-Level

3 weeks ago 16

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:18 WIB

Jakarta, VIVA – Dominasi generasi milenial di dunia kerja dinilai mulai mengubah arah kepemimpinan perusahaan modern. Pergeseran demografi tenaga kerja membuat organisasi didorong untuk mempercepat regenerasi pemimpin, termasuk membuka jalan bagi generasi milenial untuk mengisi posisi strategis hingga level C-Level.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), generasi Milenial yang lahir pada 1981 hingga 1996 menjadi angkatan kerja produktif paling banyak di dunia kerja. Kondisi ini dinilai menuntut perusahaan untuk meninggalkan pola kepemimpinan lama yang kaku dan mulai membangun sistem kerja yang lebih kolaboratif serta adaptif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Keberlanjutan organisasi saat ini tidak lagi bisa bertumpu pada pola kepemimpinan lama. Kita harus berani bertransisi dari struktur hierarki kaku yang berbasis kekuasaan menuju sebuah ekosistem kolaboratif yang digerakkan oleh tujuan bersama,” ujar Chief Human Resources Officer TACO Group, Dr. Irwan Dewanto saat ditemui di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 pada Rabu, 20 Mei 2026.

Menurut Irwan, regenerasi kepemimpinan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar perusahaan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Ia menilai generasi milenial memiliki karakter kepemimpinan yang lebih fleksibel, terbuka terhadap teknologi, dan mampu membangun budaya kerja kolaboratif.

Fenomena ini mendorong Irwan menulis lebih lanjut ke dalam sebuah buku berjudul Milenial Bisa Memimpin. Buku yang diangkat dari riset disertasi doktoralnya itu membahas urgensi transformasi kepemimpinan di tengah perubahan pola kerja dan disrupsi global.

Dalam bukunya, Irwan memperkenalkan konsep “The Big 4” sebagai standar baru kepemimpinan modern. Empat pilar tersebut meliputi pembangunan budaya kerja yang sehat, apresiasi terhadap pencapaian kecil tim, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kelincahan kerja, serta komunikasi dua arah melalui mentoring.

Ia menilai budaya organisasi menjadi fondasi utama keberhasilan kepemimpinan generasi baru. Transparansi, hubungan sosial yang sehat, dan ruang diskusi terbuka kini menjadi kebutuhan penting bagi pekerja muda, termasuk milenial dan Gen Z.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Memberikan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi milenial bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah urgensi mutlak untuk bertahan,” beber Irwan.

Dalam karyanya, ia juga mengingatkan perusahaan terhadap risiko besar apabila gagal beradaptasi dengan perubahan karakter tenaga kerja. Salah satu ancaman yang disoroti ialah talent drain atau kehilangan talenta terbaik akibat sistem organisasi yang tidak lagi relevan dengan ekspektasi generasi baru.

Halaman Selanjutnya

Selain itu, organisasi dinilai berpotensi mengalami penurunan produktivitas hingga kesenjangan relevansi jika tetap mempertahankan birokrasi yang terlalu hierarkis. Minimnya ruang interaksi antar-level disebut dapat menurunkan keterlibatan karyawan dan memperlambat inovasi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |