Jakarta, VIVA – Ekosistem startup di kawasan ASEAN tengah memasuki fase baru. Jika beberapa tahun lalu pertumbuhan startup identik dengan valuasi besar, ekspansi cepat, dan popularitas di media sosial, kini arah perkembangannya mulai bergeser. Dunia startup tidak lagi hanya berbicara tentang seberapa viral sebuah ide, melainkan seberapa relevan solusi yang ditawarkan terhadap kebutuhan nyata masyarakat.
Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya startup yang fokus membangun model bisnis berkelanjutan, efisiensi operasional, serta dampak sosial yang dapat dirasakan langsung oleh pengguna. Di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis dan persaingan pasar digital yang semakin ketat, investor maupun pelaku industri kini cenderung lebih selektif dalam melihat potensi sebuah startup.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting. Startup yang mampu memahami perubahan perilaku konsumen, menghadirkan layanan yang mudah diakses, dan menjawab persoalan sehari-hari dinilai memiliki peluang bertahan lebih besar dibanding sekadar mengandalkan tren sesaat. Tidak sedikit pula startup yang kini mulai memperluas fokus mereka ke isu keberlanjutan, kesehatan, pendidikan, hingga penguatan rantai pasok lokal.
Di kawasan ASEAN sendiri, pertumbuhan ekonomi digital turut mendorong lahirnya berbagai inovasi baru. Namun di balik peluang tersebut, tantangan juga semakin kompleks. Banyak founder menghadapi persoalan akses pendanaan, fragmentasi ekosistem, hingga perbedaan regulasi antarnegara. Kondisi ini membuat kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi semakin penting.
Belakangan, diskusi mengenai masa depan startup ASEAN juga semakin menyoroti pentingnya inovasi yang berdampak nyata. Ukuran keberhasilan tidak lagi semata dilihat dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari keberlanjutan akses layanan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar, serta kontribusi terhadap masyarakat dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut turut mengemuka dalam sebuah forum The Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam forum itu, berbagai pelaku industri, investor, hingga perwakilan pemerintah ASEAN membahas arah baru inovasi kawasan yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada dampak.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Sonny Hendra Sudaryana, menilai bahwa masa depan inovasi ASEAN akan sangat ditentukan oleh konektivitas lintas negara.
Halaman Selanjutnya
“Ke depan, ASEAN perlu bergerak sebagai ekosistem yang saling terhubung, bukan sebagai pasar yang berjalan sendiri-sendiri. Hal ini membutuhkan koordinasi lebih kuat antara kebijakan, platform ekosistem startup, dan para mitra. Sehingga, para founder startup mampu berkembang lintas negara dengan dukungan dan arah yang jelas,” ujarnya.

5 days ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)