Jakarta, VIVA – Kompetisi fotografi tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas dan keberanian menghadirkan sudut pandang baru. Hal itu diungkapkan fotografer senior, Arbain Rambey, yang juga kerap didapuk menjadi juri pada beberapa lomba fotografi bergengsi.
Menurut Arbain, salah satu kesalahan yang sering dilakukan peserta lomba foto adalah mengulang konsep atau gaya visual yang pernah menang sebelumnya. Padahal, juri cenderung mencari karya yang segar dan memiliki pembeda kuat dibandingkan peserta lain.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“(Menang) lomba foto tuh gampang, lebih bagus daripada yang lain,” ujar Arbain saat peluncuran International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026 di Jakarta pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan, peserta sebaiknya mempelajari hasil-hasil kompetisi sebelumnya sebagai referensi. Namun, referensi itu bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan dijadikan pijakan untuk menciptakan karya yang lebih kuat.
“Lebih bagus itu adalah contoh lihat hasil-hasil lomba sebelumnya, jangan mengulang kalau bisa bikin lebih bagus,” katanya.
Selain kreativitas, Arbain menegaskan pentingnya memahami aturan dan kategori lomba. Menurut dia, banyak karya bagus justru gagal karena tidak sesuai dengan ketentuan kompetisi.
Ia mencontohkan, biasanya dalam salah satu kompetisi menentukan persyaratan khusus. Misalnya, hanya diperbolehkan memotrey satwa Indonesia maka batasan inilah yang harus ditaati oleh setiap peserta untuk memperbesar peluang meraih podium juara.
“Intinya adalah ya ada suatu kategori, suatu batasan yang gak boleh dilanggar,” beber Arbain.
Kata Arbain, IAPVC yang secara rutin diselenggarakan oleh Taman Safari Indonesia menjadi salah satu kompetisi fotografi yang unik karena berhasil membangun komunitas loyal selama puluhan tahun. Pasalanya, sebagian besar pesertanya merupakan wajah lama yang terus kembali setiap tahun dengan karya-karya baru.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Memasuki usia ke-35 tahun, kompetisi fotografi satwa liar ini mengusung tema From Lens to Legacy yang menekankan kekuatan fotografi dan videografi sebagai medium penyampai pesan konservasi satwa liar. Tema ini diharapkan mampu menggambarkan bagaimana karya visual tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga warisan kesadaran bagi generasi mendatang.
“Tema ini menggambarkan bagaimana karya fotografi dan videografi dapat menjadi lebih dari sekadar dokumentasi visual, tetapi juga membawa pesan yang bermakna,” ungkap Board Advisory Taman Safari Indonesia Group, Agus Santoso.

2 hours ago
1
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)