Ganti Karyawan dengan AI Ternyata Bikin Perusahaan Gagal Untung, Kok Bisa?

5 hours ago 1

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:35 WIB

Jakarta, VIVA – Sebuah studi besar terbaru memicu perdebatan soal dampak kecerdasan buatan di dunia kerja. Di tengah tren perusahaan yang agresif memangkas karyawan dan menggantinya dengan AI, hasil riset justru menunjukkan strategi tersebut tidak memberikan keuntungan signifikan.

Dalam laporan yang dikutip dari survei lembaga riset Gartner terhadap 350 eksekutif perusahaan global dengan pendapatan di atas US$1 miliar atau sekitar Rp17 triliun, terungkap bahwa sekitar 80 persen perusahaan telah memangkas tenaga kerja untuk berinvestasi pada teknologi AI. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, keputusan tersebut ternyata belum menghasilkan dampak positif yang jelas terhadap kinerja bisnis.

"Studi menemukan bahwa perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja demi mengadopsi AI tidak menunjukkan peningkatan keuntungan yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tetap mempertahankan jumlah pekerjanya," tulis laporan Futurism, seperti dikutip pada Kamis, 14 Mei 2026.

Dengan kata lain, upaya menggantikan manusia dengan AI belum terbukti memberikan return on investment (ROI) yang lebih tinggi secara konsisten. Bahkan, sejumlah perusahaan justru dinilai kehilangan nilai penting karena mengorbankan pengalaman kerja dan pengetahuan internal demi efisiensi biaya jangka pendek.

Temuan ini sejalan dengan riset sebelumnya dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang juga menyebut bahwa sebagian besar implementasi AI di perusahaan belum menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan.

Meski begitu, tidak semua pihak menilai AI sebagai kegagalan dalam dunia kerja. Analis Gartner, Helen Poitevin, menilai langkah perusahaan memangkas karyawan lebih sering merupakan uji coba awal, bukan perubahan struktural penuh.

“Bagi kami, ini terlihat seperti semacam uji coba satu kali yang dilakukan banyak perusahaan dalam skala kecil, tetapi tidak benar-benar menghasilkan pengembalian investasi (ROI) penuh dari investasi AI mereka,” kata Poitevin. 

Ia menilai banyak perusahaan masih berada pada tahap eksperimen dalam mengadopsi AI, bukan pada fase transformasi menyeluruh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan yang berhasil mendapatkan dampak positif dari AI adalah mereka yang menggunakan pendekatan “people amplification”, yaitu AI digunakan sebagai alat bantu pekerja, bukan pengganti manusia.

Namun pendekatan ini juga tidak sepenuhnya mulus. Survei lain menunjukkan bahwa 54 persen pekerja masih menghindari penggunaan alat AI internal karena berbagai alasan, termasuk kurangnya kepercayaan dan adaptasi.

Halaman Selanjutnya

Fenomena ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara strategi perusahaan dan respons pekerja di lapangan. Di satu sisi, manajemen mendorong efisiensi berbasis AI. Di sisi lain, implementasinya belum sepenuhnya diterima oleh tenaga kerja.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |