Harga Bensin Terlanjur Naik Imbas Perang, Analis Sebut Turunnya Bisa Bertahun-tahun

5 hours ago 6

Jumat, 15 Mei 2026 - 22:45 WIB

Jakarta, VIVA – Harga bahan bakar minyak atau BBM diperkirakan belum akan kembali ke level normal meski konflik Iran mulai mereda. Analis menilai pemulihan pasar minyak global masih membutuhkan waktu panjang, terutama karena gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.

Sebagaimana diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia dari kawasan Teluk Persia. Penutupan jalur tersebut akibat konflik sempat memicu lonjakan harga minyak dan bensin global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat mencapai US$4,54 per galon atau sekitar Rp77.180 per galon dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.

Sebelum konflik terjadi, harga bensin berada di bawah US$3 per galon atau kurang dari sekitar Rp51.000 per galon. Kepala analisis perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz memang bisa menurunkan harga BBM dalam waktu dekat. Namun pemulihan penuh diperkirakan berlangsung lama.

“Sepertiga pertama penurunan harga mungkin terjadi dalam satu hingga tiga bulan. Sepertiga berikutnya bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan, dan harga kemungkinan baru kembali ke level sebelum perang pada awal hingga pertengahan 2027,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Axios, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut De Haan, proses pemulihan akan memakan waktu karena distribusi minyak dari Timur Tengah belum sepenuhnya pulih. Selain itu, produksi minyak mentah dari negara-negara Teluk Persia juga perlu ditingkatkan kembali setelah sempat dikurangi akibat gangguan ekspor.

Analis bahan bakar S&P Global Energy, Rob Smith, juga memperkirakan lalu lintas pengiriman energi di Selat Hormuz tidak akan langsung normal. “Bahkan jika konflik militer benar-benar berakhir dan berlangsung permanen, tetap dibutuhkan waktu beberapa bulan sebelum lalu lintas melalui Selat Hormuz kembali ke tingkat sebelum perang,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konsultan energi Rystad Energy menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap selama 30 hari saja sudah termasuk skenario optimistis. Mereka memperkirakan pemulihan volume pengiriman minyak baru akan mulai terlihat paling cepat pada Juni 2026.

Selain faktor distribusi, harga BBM juga masih dipengaruhi stok lama yang dibeli saat harga minyak tinggi. Karena itu, meski harga minyak dunia mulai turun, harga BBM di SPBU biasanya tidak langsung ikut turun cepat.

Halaman Selanjutnya

Fenomena tersebut dikenal sebagai pola “rocket and feathers”, yakni harga BBM naik cepat saat harga minyak melonjak, tetapi turun perlahan ketika harga minyak melemah.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |