Jakarta, VIVA – Dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa isu energi kini tidak lagi sekadar persoalan komoditas, tetapi telah menjadi bagian dari stabilitas ekonomi dan keamanan nasional suatu negara.
Direktur Eksekutif Rofirminer Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, konflik geopolitik, gangguan supply chain dan jalur distribusi energi, hingga meningkatnya kebutuhan energi di kawasan Asia, telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar energi global yang mendorong tren kenaikan harga BBM, LPG, hingga LNG di berbagai negara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
”Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan," kata Komaidi dalam keterangannya, Kamis, 14 Mei 2026.
Maka, menurutnya wajar jika di tengah dinamika geopolitik, harga energi global langsung melonjak. Komaidi mengatakan, kenaikan harga energi akibat geopolitik saat ini bersifat non-fundamental. Situasi semakin sulit ketika jalur distribusi global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
"Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," ujarnya.
Ketika harga minyak dunia melonjak, otomatis harga energi lain termasuk produk gas seperti LPG dan LNG ikut mengalami kenaikan. "Harga LPG dan LNG di indeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik,” kata Komaidi.
Di Indonesia, penyesuaian harga LPG industri non-subsidi 50 kg telah mengalami penyesuaian, mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco. Harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25–26 persen, dari sekitar US$21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari sekitar Rp 850 ribu menjadi sekitar Rp 1,06 juta per tabung pada Mei 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Begitu juga untuk BBM non-subsidi di dalam negeri. Indonesia telah memulai proses adaptasi tersebut melalui mekanisme penyesuaian harga BBM non-subsidi pada Mei 2026, yang mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global.
Terutama pada solar industri non-subsidi yang mengalami kenaikan signifikan sekitar 77–84 persen, dari sekitar US$22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$43 per MMBtu pada Mei 2026. Dalam rupiah, harga solar industri meningkat dari kisaran Rp 14.200–Rp 14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000–Rp 27.900 per liter.
Halaman Selanjutnya
Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional diperkirakan dapat meningkat signifikan apabila terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik.

4 weeks ago
7















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)