Harga Minyak Dunia Balik ke Atas US$100 Usai AS-Iran Baku Tembak di Selat Hormuz

4 days ago 10

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:20 WIB

Jakarta, VIVAHarga minyak dunia menembus level psikologis US$100 per barel usai aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz. Ketegangan di jalur vital energi dunia itu memicu kepanikan pasar dan meningkatkan kekhawatiran terhadap krisis pasokan minyak.

AS dan Iran yang saling baku tembak Selat Hormuz menjadi sentimen utama harga energi kembali naik di atas level psikologis. Bentrokan terbaru ini memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak global meski kedua negara sebelumnya telah mengumumkan gencatan senjata pada 7 April 2026 lalu berada di ujung kegagalan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir Al Jazeera, harga minyak Brent terpantau naik hingga 7,5 persen dalam perdagangan yang bergerak sangat volatil pada Kamis waktu setempat. Kontrak minyak acuan internasional itu bahkan menyentuh level tertinggi harian di US$103,70 atau sekitar Rp 1,80 juta (estimasi kurs Rp 17.370 per dolar AS) per barel sebelum sedikit terkoreksi pada awal perdagangan Asia Jumat pagi, 8 Mei 2026.

Pada pukul 03.00 GMT, harga Brent tercatat berada di level US$101,12 atau sekitar Rp 1,75 juta per barel. Angka ini masih jauh lebih mahal dibandingkan posisi sebelum konflik memanas.

Ilustrasi kapal Diserang di Selat Hormuz

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya meluncurkan serangan balasan terhadap Iran setelah tiga kapal perusak rudal Angkatan Laut AS diserang menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil milik Iran di kawasan selat tersebut.

Sementara itu, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menuding AS lebih dulu melanggar gencatan senjata dengan menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran serta kapal lain di sekitar perairan Selat Hormuz. Militer Iran juga menuduh AS menyerang wilayah sipil, termasuk Pulau Qeshm yang berada di dekat jalur pelayaran strategis tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Presiden AS, Donald Trump, berusaha meredam kekhawatiran pasar dengan menyatakan bahwa gencatan senjata masih berlaku. Sementara media pemerintah Iran, Press TV, menyebut kondisi di kawasan itu telah “kembali normal”.

Aktivitas pengiriman minyak di Selat Hormuz dilaporkan nyaris berhenti total sejak akhir Februari 2026 akibat ancaman serangan Iran terhadap kapal tanker raksasa yang mengangkut sebagian besar kebutuhan energi dunia. Kondisi itu memperbesar kekhawatiran pasar terhadap krisis pasokan energi global. 

Halaman Selanjutnya

Saat ini harga Brent tercatat telah melonjak sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang pecah. Lonjakan ini seiring perkiraan defisit produksi minyak harian mencapai 14,5 juta barel.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |