Harga Minyak Dunia Meroket Hampir Tembus US$100 saat IEA dan AS Gelontorkan Ratusan Juta Barel

1 day ago 2

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:32 WIB

Jakarta, VIVAHarga minyak dunia melambung lebih dari 7 persen pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Kenaikan dipengaruhi sikap pelaku pasar meragukan pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara maju mampu mencukupi kebutuhan global akibat gangguan pasokan karena perang di Timur Tengah masih berlanjut.

Mengutip CNBC Internasional, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 7,5 persen menjadi sekitar US$93,8 atau sekitar Rp1.585.717 (estimasi kurs Rp 16.910 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent Crude naik sekitar 7,7 persen ke level US$99,1 atau sekitar Rp 1.675.315,23 per barel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lonjakan harga bahan energi ini menyusul pengumuman Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) akan melepas  cadangan minyak darurat terbesar sepanjang sejarah. Sebanyak 32 negara anggota IEA sepakat menggelontorkan sekitar 400 juta barel minyak yang menandai penarikan terkoordinasi terbanyak sejak lembaga dibentuk setelah krisis embargo minyak tahun 1973.

Di saat yang sama, Amerika Serikat (AS) mengatakan akan melepaskan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve). Menteri Energi AS, Chris Wright, menyampaikan pengiriman minyak dari negeri Paman Sam akan dimulai dalam waktu dekat untuk membantu meredam gejolak harga energi di pasar global.

Kapal tanker Rusia memasok minyak ke India

Analis energi di MST Marquee, Saul Kavonic, menuturkan pelepasan stok strategis IEA memecahkan rekor tetapi jumlahnya hanya menutup seperempat dari kebutuhan pasokan sebesar 20 juta barel per hari. Menurutnya keputusan membuka keran cadangan minyak strategis mencerminkan tingginya risiko kekurangan minyak global.

"IEA tidak percaya perang akan segera berakhir, dan penarikan stok sekarang perlu diganti nanti, yang menandakan harga yang lebih tinggi bahkan setelah perang berakhir," ungkap Kavonic.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal ini menyebabkan pelaku pasar pun tetap gelisah karena menilai cadangan tersebut belum cukup untuk mengimbangi potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. 

"Empat ratus juta adalah angka yang besa tetapi ini adalah gangguan pasokan minyak terbesar setidaknya sejak tahun 1970an, jadi kita membutuhkan banyak minyak, dan kita membutuhkannya dengan cepat," ujar Ahli Strategi Investasi Senior di Raymond James, Pavel Molchanov.

Halaman Selanjutnya

Molchanov mengungkap alasan lain yang membuat pasar ketar-ketir adalah ketidakpastian tentang seberapa cepat barel minyak dari IEA dan AS akan sampai ke pasar. IEA tidak memberikan rincian tentang seberapa cepat masing-masing negara akan melepaskan cadangan minyak strategi dan bagaimana minyak tersebut akan didistribusikan kepada negara lain. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |