VIVA - Menjaga kelestarian alam bukan cuma soal melarang orang masuk ke hutan, tetapi bagaimana mengelola kawasan agar fungsi ekologisnya tetap pulih sambil memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Prinsip ini menjadi fokus utama dalam berbagai upaya konservasi dan restorasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kawasan TNGGP beserta area penyangganya terus didorong untuk memulihkan ekosistem dan lahan kritis melalui pendekatan berbasis alam.
Sebagai salah satu kawasan konservasi penting di Pulau Jawa, kawasan TNGGP tidak hanya menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna, tetapi juga ruang belajar tentang bagaimana alam bisa dijaga melalui kolaborasi berbagai pihak.
Dalam konteks kawasan konservasi, menjaga hutan berarti memastikan ekosistem tetap berfungsi dalam jangka panjang.
Hutan bukan hanya kumpulan pepohonan, melainkan bagian dari sistem yang menyediakan habitat bagi satwa, menjaga tata air, menyimpan karbon, hingga menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Karena itu, pekerjaan konservasi sering kali tidak berhenti pada patroli atau perlindungan kawasan. Ketika ada lahan yang mengalami degradasi, misalnya, dibutuhkan upaya restorasi agar fungsi ekologisnya dapat kembali secara bertahap.
Pendekatan semacam ini juga menjadi bagian dari perjalanan yang dikembangkan Eiger Nature dalam menggabungkan restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
Salah satu lokasi yang diperkenalkan adalah kawasan lahan kritis di area PT Perkebunan Nusantara atau PTPN I Regional 2 yang tengah menjalani proses restorasi.
Restorasi pada dasarnya adalah proses pemulihan. Tujuannya bukan sekadar membuat sebuah lahan kembali terlihat hijau, tetapi mengupayakan agar fungsi ekologis kawasan dapat kembali berjalan.
Prosesnya pun membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan secara instan. Dari sinilah kemudian muncul hubungan antara restorasi dan konservasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kawasan yang telah dipulihkan dapat menjadi bagian dari lanskap yang lebih sehat, sementara kawasan hutan yang masih terjaga membutuhkan perlindungan agar tidak kembali mengalami tekanan.
Namun begitu, ada satu hal lain yang tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan mengenai konservasi, yaitu masyarakat. Kawasan hutan dan masyarakat di sekitarnya memiliki hubungan yang panjang dan kompleks.
Halaman Selanjutnya
Karena itu, upaya menjaga alam juga membutuhkan pendekatan yang memperhitungkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Pendekatan kolaboratif seperti ini mendapat perhatian dari WWF-Indonesia.

5 hours ago
6



















