IEA Ungkap Dampak Perang Iran: Butuh 2 Tahun Produksi Minyak di Kawasan Teluk Pulih

3 hours ago 1

Jumat, 17 April 2026 - 22:00 WIB

VIVA –  Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa pemulihan produksi minyak dan gas di Timur Tengah tidak akan terjadi cepat, meski jalur pelayaran kembali dibuka. Kerusakan infrastruktur akibat perang terhadap Iran disebut akan membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk kembali ke level sebelum konflik.

Melansir Oil Price dan IRNA, Jumat, 17 April 2026, Birol dalam wawancara dengan The Wall Street Journal menegaskan bahwa pasar keliru jika menganggap gangguan pasokan ini hanya bersifat sementara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut laporan tersebut, sumur minyak, kilang, dan jaringan pipa di kawasan Teluk Persia mengalami kerusakan luas. Sementara itu, Selat Hormuz sebagian besar tertutup, memutus jalur utama ekspor minyak mentah dan bahan bakar, sehingga ratusan juta barel hilang dari pasar.

Birol menolak anggapan bahwa pasokan akan segera pulih setelah pengiriman dilanjutkan.

"Membuka kembali Selat Hormuz tidak akan mengembalikan produksi ke tingkat sebelum perang. Fasilitas harus diperbaiki dan produksi harus dimulai ulang," ujarnya.

IEA sebelumnya memperkirakan konflik ini telah memangkas produksi minyak hingga 13 juta barel per hari, dengan total kerugian ekspor—termasuk produk olahan—jauh lebih besar. Lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di kawasan dilaporkan mengalami kerusakan.

Dalam wawancara terpisah dengan harian Neue Zürcher Zeitung, Birol menjelaskan bahwa waktu pemulihan akan berbeda di tiap negara. "Di Irak, misalnya, akan memakan waktu lebih lama dibandingkan Arab Saudi. Namun kami memperkirakan totalnya sekitar dua tahun untuk kembali ke tingkat sebelum perang," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga menilai pasar meremehkan dampak dari penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan. Birol mencatat bahwa pengiriman minyak dan gas yang sudah berlayar sebelum perang kini telah tiba di tujuan, sehingga kekurangan pasokan belum sepenuhnya terasa.

"Namun, tidak ada kapal tanker baru yang dimuat pada bulan Maret. Tidak ada pengiriman baru minyak, gas, atau bahan bakar ke pasar Asia. Kesenjangan ini kini mulai terlihat. Jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, kita harus bersiap menghadapi harga energi yang jauh lebih tinggi," pungkasnya. (ParsToday)

Jubir Kemlu RI, Vahd Nabyl Mulachela

Kemlu RI Ungkap Progres Pembebasan Dua Kapal Pertamina yang Tertahan di Teluk Persia

Kemlu RI koordinasi dengan Iran terkait pembebasan dua kapal Pertamina di Selat Hormuz sejak Maret 2026, sambil menunggu izin melintas di tengah situasi keamanan.

img_title

VIVA.co.id

17 April 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |