IMF: Serangan Siber Tidak Hanya Incar Bank, Jaringan Telekomunikasi Bisa Mati Total

3 days ago 3

Minggu, 10 Mei 2026 - 16:10 WIB

Jakarta, VIVA - Dana Moneter Internasional atau IMF mengingatkan kalau kecerdasan buatan (AI) dapat menjadikan serangan siber sebagai ancaman sistemik bagi keuangan global, dengan mengatakan bahwa model-model canggih dapat membantu penyerang (hacker) mengeksploitasi kerentanan lebih cepat daripada kemampuan lembaga-lembaga untuk memperbaikinya.

Mengutip situs Russia Today, Minggu, 10 Mei 2026, IMF mengatakan analisis terbarunya menunjukkan bahwa "kerugian ekstrem akibat serangan siber dapat memicu tekanan pendanaan, meningkatkan kekhawatiran tentang solvabilitas, dan mengganggu pasar yang lebih luas".

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut IMF, sistem keuangan saat ini bergantung pada infrastruktur digital bersama, termasuk perangkat lunak, layanan cloud, dan jaringan untuk pembayaran dan data lainnya.

IMF juga memperingatkan bahwa model AI canggih dapat secara signifikan mengurangi waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi kelemahan, sehingga meningkatkan risiko serangan simultan pada sistem yang banyak digunakan.

Melansir rilis terbaru dari Claude Mythos Preview oleh Anthropic, “model AI digambarkan sebagai alat canggih dengan kemampuan siber yang luar biasa”. Menurut IMF, Mythos dapat menemukan dan mengeksploitasi kerentanan di setiap sistem operasi dan peramban web utama, “bahkan ketika digunakan oleh non-ahli”.

IMF menekankan bahwa risiko serangan siber yang didorong oleh AI dapat menggoyahkan sistem keuangan jika tidak dikelola dengan hati-hati, dan mencatat bahwa serangan siber dapat menyebar di luar sektor keuangan karena bank telah berbagi pondasi digital dengan sektor energi, telekomunikasi, dan layanan publik.

“Pertahanan pasti akan ditembus, jadi ketahanan juga harus menjadi prioritas,” kata IMF, mengingatkan, di tengah kekhawatiran yang lebih luas tentang penyalahgunaan AI.

Sebuah studi terbaru di Inggris menemukan bahwa kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan oleh pelaku perdagangan manusia untuk "mengidentifikasi, merekrut, dan mengendalikan korban dalam skala besar".

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gedung Putih dilaporkan juga mempertimbangkan untuk meninjau model AI baru sebelum dirilis guna menghindari dampak politik dari potensi serangan siber yang didukung kecerdasan buatan. Bukan itu saja. Chatbot AI juga semakin banyak dikaitkan dengan memfasilitasi kejahatan serius dan kekerasan.

Investigasi gabungan baru-baru ini oleh CNN dan Center for Countering Digital Hate menemukan bahwa 8 dari 10 chatbot AI sangat ingin membantu para peneliti mensimulasikan perencanaan serangan kekerasan, termasuk penembakan di sekolah, pemboman keagamaan, dan pembunuhan, dengan mendoakan para calon penyerang "selamat (dan aman) melakukan penembakan!"

Ilustrasi uang tunai/gaji/pesangon.

Sebelum Era QRIS dan Mobile Banking, Begini 'Ribetnya' Transfer Uang dan Transaksi Zaman Dulu

Sebelum mobile banking populer, masyarakat Indonesia memakai cek, giro, ATM hingga wesel pos untuk transfer uang dan transaksi harian. Ini sejarahnya.

img_title

VIVA.co.id

9 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |