Selasa, 24 Maret 2026 - 18:00 WIB
Jakarta, VIVA – Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani menyatakan, Irak tidak akan berpartisipasi dalam operasi di Selat Hormuz.
Menurutnya, operasi itu tidak akan membantu pelayaran dan akan memprovokasi reaksi dari Iran.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Eskalasi seputar Iran telah menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, juga telah memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Kepulan Asap Serangan di sekitar Kedubes AS di Irak
Photo :
- BBC Internasional
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebelumnya telah menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke selat tersebut.
"Kami tidak percaya pada solusi militer. Perlindungan bersenjata terhadap kapal akan memprovokasi reaksi dari Iran dan tidak akan berkontribusi pada pelayaran. Oleh karena itu, kami tidak akan berpartisipasi dalam aksi militer apa pun di Teluk Persia," kata al-Sudani.
Pada 19 Maret, enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang, mengumumkan "kesiapan mereka untuk berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui" Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Beberapa negara lain kemudian ikut bergabung dalam pernyataan tersebut.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. (Ant).
PM Jepang Janji Bakal Tempuh Semua Upaya Diplomatik di Selat Hormuz
Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi mengatakan, Tokyo akan melakukan "segala upaya diplomatik yang mungkin" untuk meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
VIVA.co.id
24 Maret 2026

4 weeks ago
15










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4987672/original/009020900_1730452009-sedang_1710678735IMG-20240317-WA0016.jpg)
















