loading...
Pangkalan Ali al-Salem di Kuwait, salah pangkalan AS di Timur Tengah yang dibombardir Iran. Foto/Screenshot video Al Jazeera
TEL AVIV - Work from Home (WFH), yang berarti bekerja dari rumah atau bekerja jarak jauh, menjadi istilah sangat populer selama pandemi Covid-19. Para tentara Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah sekarang dilaporkan menjalani WFH versi lain dalam perang melawan Iran, yang telah memasuki minggu keempat.
Pengeboman pangkalan-pangkalan AS di kawasan itu oleh Iran sebagai balasan atas perang AS-Israel telah memaksa banyak pasukan Amerika untuk lari pindah ke hotel dan ruang kantor di seluruh wilayah tersebut. Demikian diungkap The New York Times (NYT) mengutip personel militer dan pejabat Amerika.
Baca Juga: 4 Skenario Bila Pasukan Darat AS Serbu Iran: Bisa Duduki Situs Nuklir, Juga Bisa Dibantai IRGC
Menurut laporan NYT, Kamis (26/3/2026), sebagian besar pasukan militer darat berperang sambil bekerja dari jarak jauh. Pengecualiannya adalah pilot dan awak pesawat tempur yang mengoperasikan dan memelihara pesawat tempur serta melakukan serangan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah mendesak masyarakat Timur Tengah untuk melaporkan lokasi-lokasi baru tempat pasukan AS berlindung karena mereka sedang memburu pasukan yang tersebar tersebut.
Para pejabat militer AS mengatakan bahwa ancaman IRGC itu tidak menghentikan Pentagon untuk melanjutkan perang melawan Iran, yang dimulai pada akhir Februari ketika serangan udara gabungan AS-Israel membunuh pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
"Semoga setiap peluru mengenai sasarannya terhadap musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang agung," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam doanya saat kebaktian Kristen pada hari Rabu. Ini merupakan kebaktian bulanan pertamanya di Pentagon sejak perang Iran dimulai.
"Aku mengejar musuh-musuhku dan menyusul mereka, dan tidak berbalik sampai mereka binasa," lanjut Hegseth membacakan kutipan dari Mazmur, selama kebaktian yang disiarkan langsung.
Namun, relokasi pasukan ke lokasi sementara—seorang pejabat menyebutnya "alternatif"—menimbulkan pertanyaan tentang persiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk perang tersebut, menurut laporan NYT.
"Meskipun telah dilancarkan serangan udara yang hebat, Iran masih memiliki beberapa kemampuan," kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dalam konferensi pers Pentagon pekan lalu.
Para pejabat Iran menuduh militer AS menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dengan menempatkan pasukan Amerika di hotel-hotel.
"Kami terpaksa mengidentifikasi dan menargetkan Amerika," kata sayap intelijen Korps Garda Revolusi Islam dalam sebuah pesan kepada masyarakat di wilayah Timur Tengah, seperti diberitakan Tasnim News Agency. "Oleh karena itu, lebih baik tidak melindungi mereka di hotel dan menjauhi lokasi mereka."
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)


