Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pihaknya telah mengantongi nama 10 perusahaan kelapa sawit, yang diduga memanipulasi nilai ekspor (underinvoicing) dalam perdagangan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Dia meyakini, berdasarkan penelusuran pihaknya melalui sampel acak terhadap sejumlah perusahaan eksportir sawit terbesar itu, kesemuanya melakukan hal serupa.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Saya ambil 10 terbesar, semuanya melakukan hal itu. Jadi boleh dipastikan semuanya melakukan hal itu," kata Purbaya di DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Photo :
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Diperkirakan kerugian negara dari dugaan kasus itu mencapai US$84 juta, atau sekitar Rp 1,48 triliun (asumsi kurs Rp 17.700 per dolar AS).
Bahkan, Purbaya meyakini bahwa potensi kerugian itu bisa jauh lebih besar, apabila praktik-praktik kotor serupa ditemukan pada seluruh transaksi perusahaan-perusahaan terkait.
"Itu (US$84 juta) dari sampel yang diambil. Kalau dari semuanya (transaksi), ya pasti lebih besar. Karena kan itu (sampelnya) hanya sedikit saja, tiga kapal. Tapi kalau semua, iya (bisa lebih dari US$84 juta)," ujarnya.
Kasus ini pun telah dilaporkan Purbaya kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk nama-nama dalam daftar perusahaan sawit yang diduga melakukan praktik manipulasi harga ekspor tersebut.
Dia meyakini, apabila kasus underinvoicing ini bisa sampai terungkap dan diproses secara hukum, maka dampaknya akan sangat bagus bagi penerimaan negara.
Purbaya pun sebelumnya juga pernah membeberkan modus Underinvoicing yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut. Dimana, mereka mengekspor produk ke perusahaan afiliasinya di Singapura dengan harga lebih rendah dari harga sebenarnya.
Selanjutnya, produk tersebut kemudian dijual kembali ke negara tujuan, dengan harga jauh lebih tinggi. Bahkan, salah satu perusahaan terbukti hanya melaporkan nilai ekspor sebesar US$2,6 juta, sementara nilai impor yang tercatat di Amerika Serikat (AS) mencapai US$4,2 juta.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"(Saya) enggak mau sebut perusahaannya. Dia dari Indonesia kirim harganya US$2,6 juta, impornya di sana US$ 4,2 juta, jadi 57 persen bedanya," kata Purbaya beberapa waktu lalu.
"Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan di sini ekspornya US$1,44 juta, di sana US$4 jutaan, berubah harga 200 persen," ujarnya.
Purbaya Sebut Pencairan Dana Penanganan Pascabencana Sumatera Kerap Terkendala Soal Dokumen
Purbaya memastikan, apabila ada K/L yang tidak bisa menyiapkan dokumennya, maka pihak Kemenkeu langsung bergerak guna membantu menyiapkan dokumen yang dimaksud.
VIVA.co.id
25 Mei 2026

5 hours ago
2
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)