Kelas Menengah RI Punya Cara Baru Atur Duit di Tengah Mahalnya Biaya Hidup

3 weeks ago 18

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:30 WIB

Jakarta, VIVA – Tekanan ekonomi yang terus dirasakan kelas menengah membuat masyarakat semakin disiplin dalam mengatur pengeluaran. Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, hingga meningkatnya harga kebutuhan pokok mendorong banyak orang mencari cara agar kondisi finansial tetap aman dan terkontrol. 

Di tengah situasi tersebut, fitur “kantong” pada layanan perbankan digital mulai menjadi solusi populer untuk membantu masyarakat mengelola uang sesuai kebutuhan dan tujuan finansial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kelas menengah sendiri memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Data tahun 2024 menunjukkan kelompok ini menyumbang 81,5 persen total konsumsi rumah tangga. Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), kelas menengah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun, tekanan ekonomi membuat jumlah kelas menengah mengalami penurunan. Dari sebelumnya mencapai 57,3 juta orang pada 2019, jumlahnya turun menjadi 47,2 juta orang pada 2024. Kondisi ini membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.

Survei Katadata Middle Class Insight (KIMCI) yang dirilis Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan masyarakat kelas menengah mulai menerapkan berbagai strategi pengelolaan keuangan. Tiga kebiasaan teratas yang dilakukan responden adalah merencanakan pengeluaran dan pendapatan sebesar 68 persen, membedakan uang untuk tagihan bulanan dan kebutuhan sehari-hari sebesar 51,8 persen, serta mencatat pengeluaran sebesar 44,9 persen.

Dalam praktiknya, salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan adalah fitur “kantong” pada layanan keuangan digital. Fitur ini memungkinkan pengguna membagi uang ke dalam beberapa pos tertentu, seperti tagihan bulanan, transportasi, dana makan, tabungan, hingga dana darurat.

Fitur tersebut kini diadopsi oleh sejumlah perbankan digital dan konvensional, termasuk Bank Jago, BCA, dan Mandiri. Survei terpisah KIC menemukan sebanyak 86 persen masyarakat sudah mengetahui fitur kantong, dengan mayoritas responden mengaku pertama kali mengenalnya melalui Bank Jago.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya membantu secara teknis, fitur tersebut juga dinilai memberi dampak positif terhadap kondisi finansial pengguna. Sebanyak 9 dari 10 pengguna mengaku fitur tersebut membantu menciptakan keuangan yang lebih sehat karena mempermudah pengendalian pengeluaran dan perencanaan tabungan.

Selain itu, sebanyak 96,1 persen pengguna mengatakan penggunaan fitur kantong membuat mereka merasa lebih tenang karena perencanaan keuangan menjadi lebih jelas. Sementara itu, 95,5 persen responden mengaku pengaturan keuangan menjadi lebih mudah dibandingkan dilakukan secara manual.

Halaman Selanjutnya

Menariknya, kebiasaan membagi uang berdasarkan tujuan ternyata sudah lama diterapkan masyarakat Indonesia. Sebanyak 47,5 persen responden mengaku pola tersebut berasal dari didikan orang tua yang biasa membagi uang rumah tangga ke dalam amplop atau wadah berbeda untuk kebutuhan tertentu.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |