VIVA – Banyak orang merasa tetap menjalani hari dengan normal, seperti kerja beres, tugas rumah jalan, tanggung jawab keluarga terpenuhi. Dari luar terlihat baik-baik saja, tapi di dalam kepala, rasanya berbeda, mudah lupa, sulit fokus, energi cepat habis, dan otak seperti berkabut.
Kondisi ini bukan sekadar capek biasa. Dalam kajian neurosains, fenomena ini sering dikaitkan dengan high-functioning burnout. Apa itu? Scroll untuk info lebih lanjut...
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Burnout selama ini sering dibayangkan sebagai kondisi ekstrem: tidak sanggup bangun dari tempat tidur, performa kerja anjlok, atau benar-benar kolaps. Namun riset terbaru menunjukkan ada bentuk lain yang lebih “tersembunyi”.
Seseorang masih bisa produktif, bahkan berprestasi, tetapi secara mental dan biologis sudah berada di ambang kelelahan serius. Hal ini karena high-functioning burnout terjadi ketika seseorang terus memaksa diri berfungsi di level tinggi meski sistem stres tubuh sudah bekerja berlebihan dalam waktu lama.
Otak, terutama bagian yang mengatur fokus, memori, dan pengambilan keputusan, terpapar hormon stres seperti kortisol secara kronis. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi kejernihan berpikir.
Akibatnya muncul apa yang sering disebut brain fog, dengan gejala seperti sulit mengingat hal sederhana, mudah terdistraksi, atau merasa pikiran lambat. Ironisnya, karena tugas tetap selesai dan tanggung jawab tidak terbengkalai, kondisi ini sering dianggap “cuma lagi capek”.
7 Tanda High-Functioning Burnout
Melansir dari Inc, Kamis, 12 Februari 2026, berikut beberapa tanda yang sering muncul:
1. Sering lupa hal kecil
Janji, barang, atau langkah sederhana dalam rutinitas mendadak terlewat. Ini berkaitan dengan kelelahan pada sistem memori kerja di otak.
2. Sulit fokus meski pekerjaan tetap selesai
Butuh usaha jauh lebih besar untuk mempertahankan konsentrasi. Otak seperti harus “dipaksa” terus.
3. Merasa selalu lelah, bahkan setelah istirahat
Tidur tidak benar-benar memulihkan energi mental karena sistem stres belum turun.
4. Emosi lebih datar atau mudah tersinggung
Bagian otak yang mengatur emosi ikut terdampak stres kronis, membuat regulasi emosi melemah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
5. Motivasi menurun, tapi tetap memaksa diri produktif
Pekerjaan dilakukan karena kewajiban, bukan lagi dorongan atau minat.
Halaman Selanjutnya
6. Tubuh sering terasa tidak enak tanpa sebab jelas

4 weeks ago
9











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
