Jakarta, VIVA - Kembali ke batu bara. Kalimat ini mirip jargon milik pelawak senior Tukul Arwana, 'Kembali ke laptop'. Tapi, itu fakta yang dialami Jerman, salah satu pentolan Uni Eropa.
Alih-alih menyiasati lonjakan harga global, Kanselir Jerman Friedrich Merz mempertimbangkan untuk kembali memanfaatkan energi batu bara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, bagi kalangan industri dan energi, sinyal dari Berlin itu dinilai membingungkan. Kok bisa?
Mengutip situs DW, Sabtu, 23 Mei 2026, perdebatan tentang transisi energi dan perlindungan iklim kembali menghangat di Jerman. Di satu sisi, sejak 19 Mei lalu, pembeli mobil listrik sudah bisa mengajukan permohonan subsidi baru dari pemerintah.
Di sisi lain, kabinet federal baru saja mengesahkan undang-undang kontroversial mengenai sistem pemanas rumah tangga, yang kembali membuka kemungkinan penggunaan minyak dan gas—meski banyak dikritik para pakar dan kelompok lingkungan.
Perdebatan pun mengemuka: seberapa serius pemerintah di Berlin menangani perlindungan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Satu hal yang selama ini hampir tak pernah digugat adalah rencana lama menghentikan pembangkit batu bara pada tahun 2038. Pengecualian datang dari Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Dalam sebuah kongres yang diselenggarakan harian Frankfurter Allgemeine Zeitung pada pertengahan April 2026, Merz mengatakan bahwa Jerman mungkin harus mempertahankan pembangkit listrik tenaga batu bara lebih lama dari rencana.
"Kita mungkin harus membiarkan pembangkit listrik batu bara yang masih beroperasi tetap terhubung ke jaringan lebih lama,” ujar Merz. Ia menambahkan, "Saya tidak siap mempertaruhkan inti sistem pasokan energi kita hanya karena beberapa tahun lalu kita menetapkan tanggal penghentian yang ternyata tidak realistis.”
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pernyataan itu dipicu melonjaknya harga energi sejak pecahnya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada awal Maret tahun ini. Namun, bagi Martin Kaiser, pakar iklim dari organisasi lingkungan Greenpeace, menjadikan kenaikan harga bahan bakar sebagai alasan untuk meragukan rencana penghentian batu bara adalah langkah keliru.
"Friedrich Merz tidak bisa merumuskan kebijakan yang berorientasi masa depan jika ia salah menafsirkan tingginya harga energi fosil,” kata Kaiser kepada DW. Menurut dia, mempertanyakan konsensus nasional tentang penghentian batu bara tanpa alasan kuat justru bisa mengancam keamanan Jerman dan hak kebebasan generasi muda.
Halaman Selanjutnya
Meski begitu, Merz mendapat dukungan dari sejumlah analis energi. Salah satunya Jakob Schlandt dari Hamburg Institut. Menurut Schlandt, ketergantungan pada impor energi fosil merupakan "kelemahan strategis” yang harus diatasi.

5 hours ago
2
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)