Komcad ASN: Di Antara Bela Negara dan Profesionalisme

1 day ago 1

Kamis, 12 Maret 2026 - 11:07 WIB

(Artikel opini ini ditulis oleh Irna Dwi Wahyuni, ASN dan Mahasiswa S2 Universitas Indonesia)

VIVA - Rencana pelatihan 4.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai Komponen Cadangan (Komcad) tidak hanya berbicara tentang bela negara. Ia menyentuh satu hal yang lebih mendasar: konsistensi sistem merit dalam birokrasi. Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kebijakan ini memperkuat profesionalisme ASN atau justru menciptakan anomali dalam arsitektur pengembangannya?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konstitusi memang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pertahanan negara. Dalam kerangka pertahanan semesta sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019, pelibatan ASN memiliki legitimasi normatif. Dari perspektif tersebut, ASN bukanlah pengecualian.

Namun, ASN bukan hanya warga negara. Mereka adalah aparatur profesional yang menjalankan kebijakan publik, memastikan pelayanan tetap berjalan, dan menjaga stabilitas administrasi negara. Reformasi birokrasi selama dua dekade terakhir dibangun dengan prinsip merit: promosi berbasis kompetensi, pengembangan berbasis kebutuhan jabatan, dan profesionalisme yang terukur.

Di sinilah angka 300 Jam Pelajaran (JP) menjadi krusial. Dalam PP Nomor 17 Tahun 2020 tentang Manajemen PNS, setiap PNS wajib memenuhi sedikitnya 20 JP per tahun untuk menjaga Indeks Profesionalitas (IP). Artinya, 300 JP setara dengan lebih dari satu dekade kewajiban pengembangan tahunan. Ini bukan sekadar insentif administratif, melainkan intervensi signifikan dalam sistem pengembangan ASN.

Secara administratif, tawaran tersebut tentu menarik. Satu pelatihan langsung memenuhi akumulasi JP dalam jumlah besar. Namun, efisiensi angka belum tentu sejalan dengan ketepatan kebijakan. Pengembangan kompetensi dalam sistem modern semestinya berbasis kebutuhan jabatan. Pertanyaannya: sejauh mana pelatihan dasar kemiliteran relevan dengan peningkatan kompetensi teknis atau manajerial ASN?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Program Komcad mencakup pelatihan dasar kemiliteran, pembinaan fisik, latihan taktik dasar, hingga penguatan wawasan kebangsaan. Tujuan utamanya adalah kesiapsiagaan pertahanan. Nilai disiplin, solidaritas, dan nasionalisme tentu penting. Namun dalam kerangka sistem merit, pengembangan kompetensi semestinya memiliki korelasi langsung dengan kebutuhan jabatan—baik teknis, manajerial, maupun sosial kultural yang terukur.

Jika pelatihan teknis yang berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik sering kali hanya bernilai puluhan JP, sementara satu program Komcad diakui 300 JP, muncul pertanyaan proporsionalitas. Sistem merit dibangun untuk menjaga keadilan dan relevansi, bukan sekadar akumulasi angka.

Halaman Selanjutnya

Di luar perdebatan relevansi kompetensi tersebut, kebijakan ini juga perlu ditempatkan dalam kerangka tata kelola anggaran yang akuntabel. Program pelatihan yang melibatkan ribuan ASN tentu memerlukan alokasi anggaran yang tidak kecil. Karena itu, transparansi perencanaan, kejelasan manfaat, dan keterukuran dampak menjadi penting agar kebijakan ini tidak hanya sah secara normatif, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara fiskal.

Halaman Selanjutnya

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |