Krisis Energi Asia: India dan China Tempuh Strategi Berbeda di Tengah Penutupan Selat Hormuz

3 days ago 4

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:19 WIB

VIVA –Perang di Iran yang memicu penutupan efektif Selat Hormuz telah mengguncang pasokan energi Asia dan menyebabkan harga bahan bakar melonjak tajam di kawasan yang sangat bergantung pada minyak dan gas dari Teluk. Di tengah krisis tersebut, India dan China menunjukkan pendekatan yang sangat berbeda dalam merespons kebutuhan energi negara-negara Asia. 

Pada 2024, sekitar 84 persen minyak dan 83 persen gas alam cair yang melewati Selat Hormuz dikirim ke negara-negara Asia. Ketika jalur pelayaran vital itu terganggu akibat konflik di Timur Tengah, banyak negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara mengalami kepanikan energi. Konsumen mulai menimbun bahan bakar dan memangkas pengeluaran untuk kebutuhan nonpokok. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah situasi itu, China memilih langkah yang dinilai lebih berorientasi pada kepentingan domestik. Beijing memerintahkan penangguhan kontrak ekspor bahan bakar baru serta berupaya membatalkan sejumlah pengiriman yang telah disepakati sebelumnya. Kebijakan tersebut langsung berdampak pada pasar regional karena China selama ini menjadi salah satu pemasok utama bahan bakar di Asia. 

Penangguhan ekspor China disebut memengaruhi perdagangan senilai 22 miliar dolar AS dan memaksa sejumlah negara mencari pemasok alternatif dalam waktu singkat. Australia, Bangladesh, dan Filipina menjadi negara yang paling terdampak karena ketiganya sangat bergantung pada pasokan bahan bakar dari China. 

Akibat terganggunya distribusi, harga energi di Asia melonjak drastis. Harga diesel tercatat mencapai 150 dolar AS per barel, bahan bakar jet naik hingga 163 dolar AS per barel, sementara bensin menembus 139,80 dolar AS per barel. Sebelum perang, harga bahan bakar berada di kisaran 79 hingga 92 dolar AS per barel. 

Meski demikian, keputusan China bukan dipicu kekurangan pasokan energi. Negara itu justru memiliki cadangan minyak mentah besar dan kapasitas energi terbarukan yang kuat. Namun Beijing dinilai lebih memilih menjaga kepentingan dalam negeri dan menggunakan energi sebagai instrumen geopolitik di tengah meningkatnya persaingan pengaruh dengan Amerika Serikat di kawasan Asia. 

Pendekatan tersebut terlihat jelas dalam hubungan China dengan Taiwan. Beijing menawarkan pasokan energi stabil kepada Taiwan dengan syarat pulau itu bersedia menerima reunifikasi damai dengan China. Pemerintah China mengklaim Taiwan akan memperoleh perlindungan keamanan energi yang lebih baik di bawah “tanah air yang kuat”. 

Halaman Selanjutnya

Namun, Taiwan menolak tawaran itu mentah-mentah. Pejabat di Taipei menilai langkah tersebut merupakan bagian dari tekanan politik Beijing, bukan solusi ekonomi yang kredibel. Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana China memandang energi sebagai alat pengaruh politik selama masa krisis. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |