Jakarta, VIVA – Tren pensiun di kalangan generasi Z (gen Z) kian populer. Bukan sekadar berhenti bekerja, anak muda mendefinisikan pensiun sebagai kebebasan finansial di mana hasil investasi sudah cukup untuk membiayai hidup tanpa bergantung pada gaji bulanan.
Pertanyaan besar bagi banyak orang adalah berapa sebenarnya dana yang dibutuhkan untuk pensiun dini?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir RNZ pada Senin, 26 April 2026, dosen senior keuangan dari University of Auckland, Gertjan Verdickt, membeberan cara sederhana untuk mengetahui dana pensiun yang ideal dengan menghitung kebutuhan pengeluaran tahunan. Berdasarkan hasil perhitungannya, seseorang perlu memiliki dana sekitar 25 kali pengeluaran tahunan untuk pensiun selama 30 tahun, 28 kali untuk 40 tahun dan 31 kali untuk 50 tahun.
Jika seseorang hidup dengan biaya Rp150 juta per tahun maka ia perlu menyiapkan sekitar Rp3,75 miliar hingga Rp4,65 miliartergantung pada usia berapa ingin pensiun.
Ilustrasi Pensiun Dini
Photo :
- freepik.com/ana_fox
Simulasi perhitungan lain menunjukkan bahwa seseorang yang ingin pensiun di usia 40 dan hidup hingga 90 tahun bisa membutuhkan dana sekitar US$2,3 juta atau setara lebih dari Rp 39,5 miliar (estimasi kurs Rp 17.200).
Pendiri Lifetime Retirement Income, Ralph Stewart, juga membuat simulasi berbeda dengan pendekatan kebutuhan hidup bertahap.
Ia memperkirakan untuk usia 50 tahun butuh sekitar US$1,5 juta atau sekitar Rp 25,8 miliar.
Dana penisun ideal untuk usia 55 tahun sekitar US$1,25 juta atau setara Rp 21,5 miliar. Usia 60 tahun sekitar US$950 ribu dan usia 65 tahun sekitar US$700 ribu. Jumlah ini bisa lebih rendah jika sudah mendapatkan dana pensiun dari pemerintah.
Efektivitas Aturan 4 Persen
Dalam dunia investasi, dikenal aturan 4 persen (4 Percent Rule), yaitu seseorang bisa menarik 4 persen dari total dana investasi setiap tahun untuk biaya hidup. Menurut, Verdickt menilai pendekatan ini tidak selalu efisien.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Masalahnya, banyak pensiunan yang justru meninggal dengan sisa kekayaan 10–20 persen yang tidak terpakai, ditambah 2–4 persen yang hilang karena pola penarikan yang kurang optimal,” jelasnya.
Ia menekankan poin pentingnya bukan membuang metode perhitungan, tetapi menyadari bahwa pengeluaran yang kaku setiap tahun justru jadi kelemahan. Jika bisa menyesuaikan saat pasar turun, dana yang dibutuhkan bisa lebih kecil.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, ekonom dari Opes Partners, Ed McKnight, menawarkan pendekatan lain yakni aturan 6 persen. Dengan metode ini, seseorang hanya membutuhkan sekitar 16,7 kali pengeluaran tahunan.

2 hours ago
1



























