Mengenal Love Scamming, Penipuan Berkedok Cinta yang Kini Seret Mantan Artis

1 week ago 10

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:15 WIB

Jakarta, VIVA – Fenomena penipuan digital semakin berkembang seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di dunia maya. Salah satu modus yang kini kembali menjadi sorotan adalah love scamming, yaitu kejahatan yang memanfaatkan hubungan emosional untuk menipu korban. 

Kasus ini kembali mencuat setelah Fabiola Elizabeth, seorang mantan artis dan model yang juga dikenal sebagai mantan istri Reza Anugrah atau Reza Smash, diduga terlibat dalam jaringan penipuan daring berskala internasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam pengungkapan kasus oleh aparat kepolisian, sindikat tersebut disebut telah meraup keuntungan hingga puluhan miliar rupiah dengan korban yang tersebar di berbagai negara. 

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sangat memanfaatkan aspek psikologis manusia. Banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi karena pelaku membangun kedekatan emosional secara perlahan dan meyakinkan.

Mengenal Love Scamming

Mengutip dari situs Diskominfo, Selasa, 2 Juni 2026, love scamming merupakan bentuk penipuan daring di mana pelaku membangun hubungan romantis atau emosional dengan korban untuk mendapatkan keuntungan finansial. Pelaku biasanya menggunakan identitas palsu, foto menarik, serta cerita hidup yang dibuat seolah-olah nyata untuk menarik simpati dan kepercayaan korban.

Modus ini sering dilakukan melalui media sosial, aplikasi kencan, atau platform komunikasi daring lainnya. Target utama biasanya adalah individu yang dianggap rentan secara emosional, memiliki kesepian, atau tidak memiliki jaringan sosial yang kuat. Setelah hubungan terjalin, pelaku mulai mengarahkan percakapan ke arah yang lebih personal dan intens.

Modus Love Scamming

Love scamming sendiri bukan sekadar penipuan biasa, melainkan sebuah skema yang terstruktur dan dilakukan secara bertahap. Setiap tahap dirancang untuk membangun kepercayaan korban sebelum akhirnya dimanfaatkan secara finansial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tahap pertama adalah pencarian target. Pelaku akan memantau media sosial atau platform online untuk menemukan calon korban yang dianggap potensial. Setelah itu, mereka akan memulai pendekatan dengan identitas palsu yang tampak menarik dan meyakinkan.

Tahap berikutnya adalah pembangunan hubungan emosional. Di fase ini, pelaku akan memberikan perhatian berlebih, kata-kata manis, serta konsistensi komunikasi yang membuat korban merasa istimewa. Tidak jarang pelaku juga mengarang cerita sedih atau situasi sulit untuk membangun rasa empati.

Halaman Selanjutnya

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai memasuki tahap manipulasi finansial. Mereka akan meminta uang dengan berbagai alasan, mulai dari biaya darurat, masalah bisnis, hingga kebutuhan perjalanan mendesak. Permintaan ini biasanya disertai tekanan emosional agar korban segera mengirimkan dana tanpa berpikir panjang.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |