Meski Harga Emas Batangan Melonjak, Menperin Sebut Potensi Pasar Perhiasan RI Masih Kuat

2 weeks ago 4

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:00 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan, industri perhiasan masih memiliki potensi pasar yang kuat, di tengah tren kenaikan harga logam mulia yang mendorong peningkatan investasi ke emas batangan.

Lonjakan harga emas batangan diakuinya memang meningkatkan minat masyarakat terhadap investasi logam mulia. Namun, perhiasan bakal tetap memiliki nilai tambah, karena berfungsi sebagai aset investasi sekaligus produk fesyen dan koleksi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata, karena memiliki dua fungsi yaitu sebagai investasi dan aksesori yang bisa dipakai dan dikoleksi,” kata Agus dalam keterangannya, Jumat, 29 Mei 2026.

[Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, saat ditemui di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa, 6 Mei 2025]

Photo :

  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Dia mengungkapkan, data World Gold Council menunjukkan bahwa permintaan emas batangan dunia meningkat menjadi 1.402 ton pada 2025, atau naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.208 ton. Sementara konsumsi perhiasan emas di Indonesia tercatat turun 27 persen, dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.

Meski demikian, Menperin menegaskan penurunan konsumsi tersebut belum menggerus kontribusi industri perhiasan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, sektor ini masih menjadi salah satu penyumbang positif bagi neraca perdagangan Indonesia.

“Industri perhiasan masih memberikan kontribusi yang besar bagi neraca perdagangan Indonesia, terlihat dari nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga yang tumbuh signifikan 64,72 persen pada 2025. Nilainya naik dari 5,5 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 9,1 miliar dolar AS pada 2025,” ujarnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita mengatakan, mayoritas pelaku industri kecil dan menengah (IKM) perhiasan tetap memilih fokus memproduksi perhiasan, dibanding beralih ke bisnis logam mulia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Industri perhiasan dinilai masih memiliki pasar yang kuat, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor," kata Reni.

Berdasarkan data BPS dan SIINas yang dihimpun Direktorat Industri Aneka Ditjen IKMA, terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia yang terdiri atas 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil. Industri tersebut juga menyerap sebanyak 21.116 tenaga kerja di berbagai daerah.

Halaman Selanjutnya

Menurut Reni, daya saing industri perhiasan Indonesia terletak pada kreativitas desain dan identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik di pasar global.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |