Metode Ini Jadi Senjata Rahasia Atlet eSports Indonesia, Bebas Otot Kaku

4 days ago 13

Rabu, 16 September 2026 - 06:16 WIB

VIVA – Dalam dunia olahraga, bakat alami, latihan keras, dan strategi yang baik selalu menjadi kunci kesuksesan atlet. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul pemain baru di lapangan, sport science.

Ilmu ini mencakup berbagai disiplin seperti fisiologi, biomekanika, psikologi olahraga, dan nutrisi yang diterapkan secara sistematis untuk meningkatkan performa atlet.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Teknologi dalam olahraga itu mutlak sehingga menjadi faktor kunci dalam pengembangan atlet. Negara-negara dengan prestasi olahraga tinggi seperti Amerika Serikat (AS), China, Jerman, dan Inggris sudah menerapkannya sejak pertengahan abad ke-20.

Di AS, perkembangan sport science mulai pesat pada 1950-an dengan berdirinya American College of Sports Medicine (ACSM).

Melalui riset mendalam di bidang fisiologi, biomekanika, dan psikologi olahraga, AS meningkatkan investasinya untuk mendominasi kompetisi internasional, terutama di Olimpiade.

Sementara China, mulai mengembangkan sport science secara intensif pada 1980-an setelah kembali berpartisipasi di Olimpiade 1984.

Pemerintah China membangun pusat penelitian olahraga yang mendukung analisis biomekanika, nutrisi, serta pemantauan psikologis dan fisiologis atlet.

Hasilnya terlihat dalam keberhasilan mereka di Olimpiade Beijing 2008. Di Eropa, Jerman dan Inggris merupakan dua negara dengan investasi besar di bidang sport science. Akademi olahraga di Leipzig, Jerman, telah menjadi pusat penelitian utama sejak 1960-an.

Inggris, yang mulai berbenah sejak Olimpiade 1996, berinvestasi besar dalam sport science dan mendirikan English Institute of Sport untuk mengembangkan atlet berbasis data.

Olahraga elektronik atau eSports juga tidak luput dari sport science. Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) menyiapkan Program Pelatnas (Pelatihan Nasional) secara intensif, modern, dan terukur untuk menghadapi rangkaian agenda kompetisi internasional.

Agenda tersebut antara lain Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan berlangsung pada 19 September–4 Oktober, sedangkan Global Esports Games Los Angeles dijadwalkan pada 1–7 Desember 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Tim Sport Science Timnas Esport Indonesia, Yudhi Esa Saputra, persiapan tidak hanya fokus pada kemampuan teknis dan strategi permainan, tapi juga mencakup pemantauan kesiapan fisik dan mental, nutrisi, pengelolaan beban latihan, serta analisis performa para atlet.

Ia mengaku bahwa sport science membantu tim pelatih menyusun program yang terukur serta relevan dengan kebutuhan atlet dan karakter setiap kompetisi serta tingkat persaingan yang berbeda.

Halaman Selanjutnya

“Program latihan, evaluasi performa, serta pengelolaan kondisi fisik dan mental disusun secara terukur berdasarkan kebutuhan atlet dan target kompetisi. Para atlet juga menjalani latihan teknis, fisik, dan mental dengan intensitas tinggi. Karena itu, selain aspek psikologis, faktor seperti mobilitas, postur, daya tahan, serta kenyamanan otot dan sendi perlu dijaga,” ungkap Yudhi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |