Misteri Kecelakaan China Eastern Terkuak: Aliran Bahan Bakar Diputus, Pilot Sengaja Jatuhkan Pesawat

5 days ago 3

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:26 WIB

VIVA – Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat merilis laporan terbaru, membuka petunjuk paling jelas sejauh ini mengenai penyebab kecelakaan tragis pesawat China Eastern Airlines MU5735 -- yang menabrak gunung pada 21 Maret 2022 dan menewaskan seluruh 132 orang di dalamnya.

Dalam dokumen yang dirilis 1 Mei sebagai respons atas permintaan catatan publik, NTSB memaparkan temuan dari perekam data penerbangan pesawat Boeing 737-800 yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. NTSB dilibatkan dalam investigasi oleh otoritas Tiongkok karena pesawat dan mesinnya diproduksi oleh perusahaan Amerika, serta reputasi penyelidik AS sebagai ahli analisis kotak hitam pascakecelakaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data tersebut menguatkan dugaan lama bahwa tidak ada kerusakan teknis pada pesawat sebelum insiden, sekaligus mengarah pada kemungkinan keterlibatan awak di kokpit dan faktor kesengajaan yang memicu terjadi kecelakaan pesawat China Eastern Airlines menabrak gunung

Para ahli keselamatan penerbangan yang menelaah data itu sepakat bahwa suplai bahan bakar ke kedua mesin terputus, mesin dimatikan disusul manuver tajam yang membuat pesawat menukik dan berputar 360 derajat sebelum akhirnya menabrak gunung.

Namun, data tersebut belum mampu menjelaskan secara pasti apa yang terjadi di kokpit, karena otoritas penerbangan Tiongkok belum merilis laporan akhir mereka, meskipun standar internasional mendorong laporan keluar sekitar satu tahun setelah kecelakaan.

Tuas Bahan Bakar Sengaja Diputus

Salah satu temuan paling krusial dalam rilis NTSB adalah posisi tuas bahan bakar pada pesawat 737 yang secara desain, tidak dapat berpindah secara tidak sengaja. Tuas tersebut harus ditarik terlebih dahulu sebelum bisa digeser ke posisi mati.

John Cox, CEO Safety Operating Systems, menjelaskan bahwa tuas bahan bakar terkunci pada tempatnya, sehingga kecil kemungkinan kedua tuas itu berpindah tanpa disengaja. Indikasinya, seseorang secara aktif memindahkan keduanya ke posisi mati.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data penerbangan berhenti ketika pesawat masih berada di ketinggian 26.000 kaki setelah kehilangan daya hidrolik dan listrik. Namun, rekaman 12 menit sebelumnya memberikan gambaran rangkaian kejadian yang tidak biasa.

Perekam suara kokpit sebenarnya masih berfungsi karena memiliki cadangan baterai, tetapi NTSB tidak merilis transkrip percakapan tersebut. Kewenangan publikasi detail itu berada di tangan otoritas Tiongkok.

Halaman Selanjutnya

Jeff Guzzetti, mantan penyelidik NTSB dan FAA, menilai pola pergerakan kendali pesawat menunjukkan kemungkinan adanya pergumulan di kokpit dan kecelakaan itu mungkin merupakan bunuh diri pilot. Telah ada sejumlah kasus serupa sebelumnya, termasuk penerbangan Germanwings yang jatuh di Pegunungan Alpen Prancis pada tahun 2015, menewaskan semua orang di dalamnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |