Jakarta, VIVA – Mobil baru kini semakin bergantung pada semikonduktor untuk menjalankan berbagai sistem elektronik, mulai dari sistem keselamatan hingga penggerak kendaraan listrik. Di tengah kebutuhan chip yang terus meningkat, pasokan semikonduktor untuk industri otomotif mulai mengetat dengan waktu tunggu komponen yang kembali meningkat.
Data yang dilihat VIVA Otomotif dari TechInsights, Selasa 22 September 2026 menunjukkan rata-rata waktu tunggu atau lead time semikonduktor otomotif mencapai 16,8 minggu pada kuartal I 2026, naik hampir 2,5 minggu dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh waktu tunggu yang lebih panjang untuk power devices, memory, komponen perlindungan sirkuit, dan discrete semiconductors.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tekanan pasokan juga terlihat pada semikonduktor memory yang digunakan kendaraan. Menurut TechInsights, produsen masih mengalihkan sebagian kapasitas DRAM dan NAND untuk memenuhi kebutuhan AI dan high-bandwidth memory, sehingga pasokan memory untuk sektor otomotif tetap terbatas.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena kandungan elektronik dalam kendaraan terus bertambah. Semikonduktor digunakan pada electronic control unit (ECU), sistem bantuan pengemudi atau ADAS, kamera dan sensor, sistem infotainment, konektivitas, hingga berbagai perangkat keselamatan.
Pada mobil listrik, kebutuhan semikonduktor bertambah dengan adanya battery management system (BMS), inverter, on-board charger, dan sistem pengendalian motor listrik. Perkembangan arsitektur kendaraan juga mendorong penggunaan domain controller, zonal architecture, serta sistem komputasi berperforma tinggi.
Persoalan rantai pasok semikonduktor tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah Indonesia terhadap perkembangan teknologi di industri otomotif. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan daya saing industri membutuhkan penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia (SDM), dan ekosistem rantai pasok yang kokoh.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pernyataan tersebut disampaikan Susiwijono dalam Business Discussion Lunch bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang di Nagoya pada 19 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, Susiwijono didampingi Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon.
Kemenko Perekonomian juga menyebut pemerintah sedang membuka jalan bagi sektor pertumbuhan baru, khususnya AI dan semikonduktor, melalui kerja sama internasional. Indonesia telah menjalin kerja sama dengan ARM, menjadi anggota WAICO, serta melakukan penjajakan dan komunikasi dengan PAX Silica.
Halaman Selanjutnya
Langkah tersebut dinilai relevan dengan industri otomotif karena pemerintah menyebut sektor tersebut semakin bergantung pada komponen semikonduktor dan teknologi cerdas. Penguatan ekosistem teknologi di dalam negeri diharapkan ikut meningkatkan produktivitas dan daya saing industri otomotif Indonesia.

9 hours ago
1





















