Novo Nordisk Ajak Masyarakat Pahami Dampak Obesitas terhadap Kesehatan Perempuan

1 week ago 8

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:31 WIB

Jakarta, VIVA Obesitas merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat khususnya perempuan secara menyeluruh, termasuk kesehatan metabolik, kardiovaskular, mental, dan reproduksi.

Melalui diskusi media bertajuk “The Missing Conversation: Weight and Women’s Health”, Novo Nordisk Indonesia mengajak publik memahami dampak obesitas di berbagai fase kehidupan perempuan, termasuk kaitannya dengan kondisi hormonal dan metabolik seperti Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Guna membedah lebih dalam keterkaitan berat badan dengan berbagai pilar kesehatan, diskusi tersebut menghadirkan dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi," kata Cynthia dalam keterangannya, Kamis, 30 Juli 2026.

Dia menjelaskan, salah satu contoh keterkaitan obesitas dengan kesehatan reproduksi adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).

Perubahan nomenklatur ini mencerminkan pemahaman ilmiah bahwa kondisi tersebut bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi merupakan gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks.

PMOS merupakan penyebab tersering gangguan ovulasi, dan sekitar 35–50 persen perempuan dengan kondisi ini juga mengalami obesitas, yang dapat memperburuk gejala serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi maupun metabolik. Obesitas dan PMOS pun bisa menyebabkan kondisi yang kompleks.

"Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk itu obesitas perlu mendapat perhatian yang serius. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan pengelolaan obesitas juga terus berkembang.

Salah satu perkembangan dalam tata laksana obesitas adalah hadirnya terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA), yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Sesuai evaluasi dokter dan indikasi medis, terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pengelolaan berat badan, sebagai pelengkap perubahan gaya hidup.

Halaman Selanjutnya

Menegaskan komitmen Novo Nordisk dalam mendukung perjalanan kesehatan perempuan, Associate Director, Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman menyatakan, obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |