Pemerintah Blak-blakan Penyebab Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional, Ini Alasannya

7 hours ago 3

Sabtu, 18 April 2026 - 11:02 WIB

Jakarta, VIVA Pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis menuju swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Untuk tahun 2026, Kementerian Pertanian bahkan memasang target 3 juta ton gula konsumsi.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri menjelaskan, Holding Pangan ID Food bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) juga sudah melakukan konsolidasi industri gula nasional, dengan mengintegrasikan 36 pabrik gula dari Sumatra hingga Sulawesi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dalam rangka mencapai target itu, pemerintah mengandalkan perluasan lahan dan peningkatan produktivitas," kata Kuntoro dalam keterangannya, Sabtu, 18 April 2026.

"Program hilirisasi perkebunan yang di dalamnya terdapat target peremajaan tebu (bongkar ratoon) dan pembukaan lahan baru seluas 200 ribu hektare pada 2025 dan 2026 juga terus didorong, meski realisasinya masih menghadapi tantangan di lapangan," ujarnya.

Kebijakan ini diperkuat oleh Perpres No. 40/2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol, serta pelepasan varietas tebu unggul berdaya hasil tinggi.

"Dari sisi tata niaga, penetapan harga acuan sebesar Rp 14.500 per kg di tingkat produsen dan Rp 17.500 per kg di tingkat konsumen diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara insentif petani dan keterjangkauan harga bagi masyarakat," ujar Kuntoro.

Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan struktural masih membayangi. Produktivitas tebu nasional relatif rendah, dengan rata-rata produksi gula sekitar 4,74 ton per hektar, hal jauh di bawah capaian historis.

Penyebabnya beragam, mulai dari kebun tebu yang menua, keterbatasan bibit unggul, praktik budidaya yang belum optimal, hingga keterbatasan infrastruktur irigasi dan akses permodalan.

"Di sisi hilir, banyak pabrik gula berusia tua dengan rendemen rendah, sehingga meski revitalisasi pabrik terus digencarkan melalui suntikan modal negara, peningkatan kinerja belum maksimal tanpa pasokan tebu berkualitas," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, secara terang-terangan mengungkapkan bahwa kualitas gula yang diproduksi oleh BUMN pangan saat ini tidak optimal. "Hal ini disebabkan oleh kondisi pabrik gula tua yang dimiliki BUMN," kata Ghimoyo.

Secara terpisah, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY & Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta,Yuvensius Sri Susilo menjelaskan, kualitas gula ID Food tidak sebaik produksi pabrik gula swasta.

Halaman Selanjutnya

“Saya sependapat dengan hal tersebut. Hal tersebut terjadi karena faktor pabrik gula mesinnya sudah tua, sehingga kualitas produk gula tidak optimal juga berwarna putih kusam atau kuning. Di sisi lain, gula pabrik swasta warna lebih putih,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |