VIVA – Nasib lima jurnalis yang hilang bersama tiga kru kapal cepat Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda masih menjadi tanda tanya. Memasuki hari kesembilan pencarian, tim SAR masih menunggu hasil pencocokan DNA dengan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu.
Delapan orang tersebut dilaporkan hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026. Mereka terdiri dari lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Hingga hari kesembilan operasi SAR, keberadaan mereka belum diketahui. Tim gabungan masih melakukan pencarian di wilayah perairan dan pulau-pulau yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, mencakup wilayah Banten, Lampung hingga Bengkulu.
Di tengah pencarian yang belum membuahkan hasil tersebut, muncul perkembangan dari Pulau Enggano, Bengkulu. Sebuah jenazah pria tanpa identitas ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026.
Jenazah kemudian dievakuasi menggunakan pesawat dari Enggano menuju RS Bhayangkara Polda Bengkulu pada Senin, 14 September 2026. Proses autopsi dan identifikasi dilakukan oleh Tim Diagnostic Visual Identification (DVI) Biddokkes Polda Bengkulu bersama Pusdokkes Polri.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan, pihaknya telah menyerahkan seluruh data yang diperlukan untuk proses pencocokan DNA kepada Tim DVI Polda Bengkulu.
Namun, sampai Rabu malam, hasil pencocokan tersebut belum dapat memastikan apakah jenazah yang ditemukan di Enggano memiliki keterkaitan dengan delapan orang yang hilang bersama kapal Arupadhatu 1.
"Semua sudah kami kirimkan, hingga saat ini kami masih menunggu," ujar Al Amrad dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan Pantai Carita, Pandeglang, Banten.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Amrad yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC) dalam operasi pencarian tersebut tidak merinci sejauh mana proses identifikasi telah dilakukan.
Pencocokan data DNA antara keluarga korban atau data antemortem dengan sampel jenazah atau postmortem menjadi salah satu proses penting untuk memastikan identitas jenazah.
Halaman Selanjutnya
Hasil identifikasi itu nantinya diharapkan dapat menjawab salah satu teka-teki dalam pencarian delapan orang yang hilang di perairan Selat Sunda tersebut.

3 days ago
17




















