Selasa, 2 Juni 2026 - 00:05 WIB
VIVA –Dalam upaya memperkuat armada drone tempurnya, militer Amerika Serikat dilaporkan mulai melirik perusahan rintisan (startup) yang sebelumnya bergerak di bidang yang jauh dari dunia militer.
Menurut laporan The Washington Post baru-baru ini, perusahaan yang dilirik didirikan oleh mantan pebalap, pehobi teknologi. Selain itu, beberapa perusahaan yang sebelumnya mengembangkan teknologi untuk memantau lapangan golf hingga membuat pertunjukkan cahaya menggunakan drone ikut dilirik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir laman NDTV, Selasa 2 Juni 2026, langkah ini diambil menyusul dengan konflik yang terjadi di Ukraina dan Timur Tengah. Konflik tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran drone kecil berbiaya mudah dalam peperangan modern.
Pentagon menilai Amerika Serikat perlu mempercepat pengembangan kemampuan drone militernya. Untuk itu, mereka meluncurkan kompetisi selama 18 bulan bertajuk "Drone Dominance" guna mencari produsen drone paling menjanjikan.
Melalui kompetisi tersebut, perusahaan-perusahaan peserta berpeluang mendapatkan bagian dari kontrak senilai US$1,1 miliar atau sekitar Rp19,58 triliun untuk memproduksi hingga 300.000 unit drone. Bahkan, pemerintahan Presiden Donald Trump mengusulkan investasi yang jauh lebih besar, yakni US$54,6 miliar atau sekitar Rp971,88 triliun dalam anggaran pertahanan tahun depan untuk memperluas program perang drone secara signifikan.
Salah satu kandidat terdepan adalah Neros, startup asal California yang didirikan mantan juara dunia balap drone, Soren Monroe-Anderson. Selain itu ada Skycutter, perusahaan asal Inggris yang bekerja sama dengan produsen drone dari Ukraina, sebagaimana dilaporkan The Washington Post.
Drone yang sedang diuji dalam program ini tergolong murah, dengan harga sekitar US$5.000 atau sekitar Rp89 juta per unit. Drone tersebut dirancang untuk dapat dikorbankan dalam pertempuran jika diperlukan. Mengadopsi teknologi yang berkembang di dunia balap drone, perangkat ini mampu bermanuver dengan kecepatan tinggi dan menghantam target dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Untuk menentukan pemenang, Pentagon menggelar serangkaian tantangan yang menguji kemampuan drone dalam berbagai misi, mulai dari serangan jarak jauh hingga operasi menyerang target di dalam bangunan.
Tujuan Pentagon adalah mendorong inovasi berkembang lebih cepat sekaligus menghindari proses pengadaan yang panjang dan selama ini cenderung menguntungkan kontraktor pertahanan besar.
Halaman Selanjutnya
Sebanyak 26 perusahaan mengikuti putaran pertama kompetisi yang digelar awal tahun ini di Fort Benning, Georgia. Skycutter keluar sebagai peserta terbaik dan berhasil memperoleh pesanan terbesar, yakni lebih dari 2.500 unit drone.

1 week ago
7














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)