Jakarta, VIVA - Harga minyak melonjak hingga hampir US$120 (Rp2 juta) per barel pada 9 Maret 2026, setelah Israel menyerang infrastruktur energi Iran pada akhir pekan dan Teheran mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut.
Serangan itu, yang menandai eskalasi besar dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 hari, memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, dengan harga minyak mentah Brent mencapai US$119,50 (Rp1,85 juta) per barel.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Harga kemudian turun kembali ke sekitar US$100 (Rp1,57 juta), dan pada 10 Maret, minyak diperdagangkan di bawah US$90 (Rp1,41 juta) per barel, tetapi masih lebih dari 20 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Memburuknya konflik meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, di mana para produsen sudah menghadapi kerusakan fasilitas akibat serangan Iran serta penutupan jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.
Dengan kapasitas penyimpanan ekspor yang semakin menipis, DW menanyakan apakah produksi minyak di negara-negara Teluk dapat berhenti dalam hitungan hari. Negara-negara produsen minyak di Teluk, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain, kini langsung terdampak konflik Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran.
Iran menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik dengan meluncurkan serangan terhadap fasilitas energi, bandara, hotel, kawasan perumahan, serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Serangan ini memicu tuduhan perilaku “pengkhianatan” serta ancaman pembalasan militer.
Situasi semakin memburuk karena penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran, jalur laut sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, yang menurut perusahaan analitik pelayaran Kpler telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas komersial.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupannya dianggap sebagai skenario terburuk bagi pasar energi global. Dengan kapal tanker minyak dan LNG (gas alam) terjebak, para produsen Teluk berharap selat tersebut segera dibuka kembali.
Walaupun Arab Saudi dan UEA memiliki jalur alternatif untuk mengekspor sebagian energi melalui Laut Merah dan Teluk Oman, negara Teluk lainnya hanya dapat mengandalkan kapasitas penyimpanan yang terus menipis.
Halaman Selanjutnya
Secara kolektif, negara-negara Teluk dapat menyimpan sekitar 343 juta barel minyak untuk menunda penghentian produksi yang tak terhindarkan, menurut bank investasi AS JP Morgan.

2 days ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
