PSG Tak Lagi Bergantung pada Bintang, Luis Enrique Ubah Klub Paris Jadi Mesin Juara Eropa

2 weeks ago 13

Minggu, 31 Mei 2026 - 12:00 WIB

VIVA – Selama berbulan-bulan Arsenal melaju tanpa tersentuh kekalahan di Liga Champions musim ini. Mereka menyingkirkan sejumlah lawan kuat dan datang ke partai puncak dengan keyakinan besar untuk meraih trofi Eropa pertama dalam sejarah klub.

Justru Paris Saint-Germain yang menjadi tim pertama sekaligus terakhir yang mampu menjatuhkan Arsenal di kompetisi elite Benua Biru musim ini. Di Puskas Arena, Hungaria, Sabtu 30 Mei 2026, PSG menunjukkan mengapa mereka kini dianggap sebagai kekuatan baru sepak bola Eropa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, Les Parisiens akhirnya keluar sebagai juara usai memenangkan drama adu penalti dengan skor 4-3. Sepakan terakhir Gabriel Magalhaes yang melambung di atas mistar menjadi penentu keberhasilan tim asal Prancis mempertahankan mahkota Liga Champions.

Hasil tersebut bukan sekadar kemenangan dalam satu pertandingan. Gelar itu menjadi simbol keberhasilan revolusi besar yang dilakukan Luis Enrique sejak tiba di Paris hampir tiga tahun lalu.

Arsenal Sempat Membuat PSG Tertekan. Final sempat berjalan sesuai skenario Arsenal. Baru beberapa menit laga berlangsung, Kai Havertz berhasil membawa The Gunners unggul lebih dulu dan membuat pendukung PSG terdiam.

Namun keunggulan itu tidak mengubah pendekatan permainan PSG. Tim asuhan Luis Enrique tetap memainkan sepak bola agresif dengan penguasaan bola tinggi dan tekanan konstan sejak fase pembangunan serangan lawan. Mereka terus memaksa Arsenal bertahan di wilayah sendiri sepanjang pertandingan.

Kesabaran PSG akhirnya membuahkan hasil ketika Ousmane Dembele sukses mengeksekusi penalti pada babak kedua untuk menyamakan kedudukan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak saat itu pertandingan semakin memperlihatkan dominasi wakil Prancis tersebut. PSG menguasai sekitar 65 persen penguasaan bola dan terus mengurung Arsenal di area pertahanan mereka. Achraf Hakimi dan kawan-kawan melepaskan 21 percobaan ke arah gawang, sementara Arsenal hanya mampu menghasilkan delapan peluang.

Statistik UEFA juga memperlihatkan betapa besar dominasi PSG. Mereka tercatat 44 kali memasuki sepertiga akhir lapangan lawan, sedangkan Arsenal hanya dua kali. PSG juga 13 kali masuk ke kotak penalti Arsenal, jauh lebih banyak dibandingkan ancaman yang mampu dibangun pasukan Mikel Arteta.

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, disiplin pertahanan Arsenal membuat pertandingan tetap berjalan ketat. Duet William Saliba dan Gabriel Magalhaes tampil solid di depan David Raya sehingga PSG kesulitan mengubah dominasi menjadi gol tambahan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |