Selasa, 26 Mei 2026 - 21:02 WIB
VIVA – Negara-negara Asia Tenggara dinilai perlu mengubah strategi pertahanan mereka untuk menghadapi meningkatnya kekuatan militer China. Salah satu langkah yang dianggap efektif adalah mengalihkan anggaran pertahanan ke pengadaan peralatan militer yang mudah dipindahkan, relatif murah, namun sulit dilawan.
Peralatan yang dimaksud mencakup rudal serang, drone murah, hingga sistem rudal permukaan-ke-udara bergerak. Dengan memperkuat kemampuan tersebut, negara-negara di kawasan disebut dapat meningkatkan biaya dan risiko yang harus ditanggung China jika melancarkan konflik militer.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan taktik yang digunakan dalam perang di Ukraina maupun konflik di Timur Tengah. Strategi tersebut juga dianggap mirip dengan cara China menghadapi Amerika Serikat, yakni dengan mengandalkan sistem persenjataan yang sulit dihancurkan, mahal untuk dilawan, dan mampu membatasi akses lawan ke wilayah maritim tertentu.
Strategi militer China sendiri selama ini menitikberatkan pada kemampuan pengumpulan dan distribusi informasi secara terintegrasi melalui jaringan sistem komunikasi dan operasi gabungan. Namun, sistem seperti itu disebut rentan terhadap serangan dari peralatan bergerak yang sulit dideteksi.
Negara-negara Asia Tenggara dinilai dapat menargetkan infrastruktur komunikasi militer China, radar, pesawat pengintai, sensor, hingga stasiun komunikasi satelit yang menjadi bagian penting dari jaringan pertahanan Beijing. Gangguan terhadap sistem tersebut diyakini dapat mengurangi kemampuan China dalam memantau posisi lawan dan mengoordinasikan operasi militernya.
Selain sulit dilacak, salah satu keunggulan utama sistem bergerak adalah daya tahannya di medan perang modern. Sistem rudal permukaan-ke-udara, peluncur rudal, dan drone dapat menggunakan taktik “tembak lalu berpindah”, sehingga lebih sulit dijadikan sasaran serangan balasan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Keunggulan lainnya adalah faktor biaya. Drone satu arah berbaling-baling disebut jauh lebih murah dibanding rudal pencegat yang dibutuhkan untuk menghancurkannya. Sebagai contoh, drone Shahed-136 buatan Iran diperkirakan berharga sekitar 20 ribu hingga 50 ribu dolar AS, sementara rudal pencegat yang digunakan sistem pertahanan udara negara Teluk dan Israel bisa mencapai 3 juta hingga 12 juta dolar AS per unit.
Dalam skenario konflik, negara-negara Asia Tenggara disebut dapat memanfaatkan drone murah untuk memaksa China menghabiskan stok rudal pencegat yang mahal dan terbatas jumlahnya. Setelah pertahanan udara melemah, serangan lanjutan menggunakan rudal atau roket dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Halaman Selanjutnya
Taktik serupa disebut telah digunakan Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, dengan mengombinasikan rudal serang dan drone murah untuk menargetkan pangkalan militer serta infrastruktur komunikasi.

4 hours ago
1















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)
![[Kolom Pakar] Dokter Ray Wagiu Basrowi: Peran Ganda Ibu Pekerja di Indonesia](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/4PDT82S2e8pRy0jVWbBaEYUDJaA=/1200x675/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508439/original/026909700_1771575367-dokter_dan_peneliti_kedokteran_komunitas__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH_.jpeg)