Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.813 pada Senin, 21 September 2026. Posisi rupiah itu melemah 68 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.745 pada perdagangan Jumat, 18 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 22 September 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.876 per dolar AS. Posisi itu melemah 29 poin atau 0,16 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.847 per dolar AS.
Uang dolar AS dan rupiah.
Photo :
- ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, perhatian pasar terhadap Indonesia juga tertuju pada kebijakan teknis dari keputusan pemerintah membentuk bursa komoditas untuk mengendalikan harga.
Kebijakan selanjutnya yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut akan menentukan produk apa saja yang diperdagangkan, serta tahapan perdagangannya lewat aturan tersendiri.
Beberapa hal yang dipertimbangkan OJK di antaranya adalah kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar. Lewat kebijakan ini juga, OJK akan mengambil alih pengaturan bursa tersebut dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai 1 Januari 2027.
Selain itu, pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi. Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan.
Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan gubernur BI dalam rapat dewan gubernur (RDG) di hari rabu akan menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain itu pasar juga melihat kembali tentang angka defisit anggaran di bawah batas aman 3 persen produk domestik bruto (PDB), yang acap kali dijadikan tolok ukur utama kesehatan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Meski berfungsi sebagai pagar disiplin fiskal, angka tersebut dinilai belum menjamin ketahanan ekonomi nasional jika tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.
Rancangan postur RAPBN 2027 menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun dan belanja negara Rp 4.097,2 triliun, sehingga menghasilkan defisit sebesar 2,40 persen terhadap PDB. Defisit di bawah 3 persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran tapi pagar bukan rumah.
Halaman Selanjutnya
Kesehatan postur anggaran negara ditentukan oleh variabel yang jauh lebih mendalam ketimbang sekadar nominal defisit. Faktor-faktor kritikal tersebut meliputi kualitas belanja, beban pembayaran bunga utang, tingkat kekakuan pengeluaran (expenditure rigidity), daya serap terhadap guncangan ekonomi, hingga potensi risiko laten yang belum mencuat di neraca keuangan saat ini.

13 hours ago
4





















