Jakarta, VIVA – Unggahan Sabrina Chairunnisa di media sosial belakangan ini menjadi sorotan publik. Tulisan panjang bernada reflektif itu diduga ditujukan untuk mendiang Lula Lahfah, yang namanya kembali ramai dibicarakan setelah kepergiannya. Alih-alih membela atau membuka kembali polemik, Sabrina justru mengajak warganet untuk menahan diri dan merenungkan kembali cara bersikap di ruang publik digital.
Dalam unggahannya, Sabrina secara terbuka mengungkap kegelisahannya melihat kebiasaan sebagian netizen yang kerap menguliti masa lalu seseorang, bahkan setelah orang tersebut meninggal dunia. Ia menilai, kebiasaan menghakimi dan berspekulasi bukanlah sikap yang mencerminkan empati sebagai sesama manusia. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Sabrina Chairunnisa
Photo :
- Instagram @sabrinachairunnisa_
Sabrina menekankan bahwa dosa, kesalahan, maupun masa lalu seseorang bukanlah konsumsi publik, apalagi ketika orang tersebut sudah berpulang. Menurutnya, manusia tidak memiliki otoritas untuk mengadili hidup orang lain, karena penilaian sejati berada di tangan Tuhan.
“Dear netizen, bisakah kita berhenti mengurusi dosa orang lain? Apalagi ketika orang tersebut telah meninggal dunia,” tulis Sabrina Chairunnisa yang dikutip dari Instagramnya @sabrinachairunnisa_ pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ia juga mengingatkan bahwa membongkar aib, menyebarkan asumsi, atau membangun narasi liar di media sosial hanya akan memperpanjang luka, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Sabrina menilai, media sosial seharusnya tidak dijadikan ruang untuk mengadili, melainkan tempat untuk belajar berempati.
“Seburuk atau sebaik apa pun seseorang semasa hidupnya, menghitung dan mengadili perbuatannya bukanlah tugas kita. Itu adalah urusan Tuhan, dan hanya Tuhan yang berhak menilai,” tulisnya lagi.
Dalam tulisannya, Sabrina turut menyinggung kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Ia mengajak publik untuk lebih fokus memperbaiki diri sendiri dan kehidupan masing-masing, daripada sibuk membedah masa lalu orang lain yang belum tentu utuh kebenarannya.
“Di tengah kondisi dunia dan ekonomi global yang sedang tidak menentu, memikirkan bagaimana hidup kita masing-masing ke esok hari jauh lebih penting daripada membedah masa lalu orang lain,” ujarnya.
Pesan paling kuat dalam unggahan tersebut adalah ajakan untuk rendah hati. Sabrina mengingatkan bahwa merasa diri lebih suci tidak otomatis membuat seseorang bebas dari dosa.
Halaman Selanjutnya
“Merasa diri lebih suci tidak berarti kita bebas dari dosa. Sering kali itu hanya berarti dosa kita belum dibuka,” lajutnya.

16 hours ago
3















