Santriwati Korban Kiai Ashari Bongkar Alibi Pencabulan di Pesantren yang Bikin Ngelus Dada

5 days ago 9

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:40 WIB

Pati, VIVA – Kasus dugaan pencabulan yang menyeret nama Ashari terus menjadi sorotan publik. Setelah aparat menetapkan pimpinan pondok pesantren tersebut sebagai tersangka, kini salah satu korban mulai berani membuka pengalaman pahit yang dialaminya selama berada di lingkungan pesantren.

Pengakuan itu disampaikan seorang santriwati dengan nama samaran Tari dalam sebuah podcast bersama Denny Sumargo yang tayang di YouTube. Cerita tersebut memicu reaksi luas masyarakat lantaran korban mengungkap dugaan praktik manipulasi dan tekanan psikologis yang disebut berlangsung secara sistematis. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tari mengaku suasana di pondok pesantren tempatnya menimba ilmu dikenal sangat keras. Para santri disebut harus selalu mengikuti perintah pengasuh pesantren tanpa banyak bertanya. Jika dianggap membangkang, mereka disebut bisa mendapat perlakuan kasar.

“Di sana itu keras,” ujar Tari, dikutip Jumat 8 Mei 2026.

“Di sana itu menurutnya kalau tidak benar ya langsung sikat dipukul-pukul disikat. Ya sama oknum kiai itu tadi," tambahnya.

Menurut penuturan Tari, tindakan yang diduga sebagai pelecehan itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dilakukan secara perlahan sehingga membuat korban awalnya tidak menyadari situasi yang sedang dialaminya. Ia mengatakan hubungan antara guru dan santri dijadikan alasan untuk membangun kedekatan fisik yang lama-kelamaan dianggap wajar.

“Awal mula kan bertahap, nggak separah itu. Awal mula disuruh mijitin, terus dicium. Kalau dah selesai kan pamitan, terus dicium kanan-kiri. Di situ biasa. Kalau santri biasa cium tangan,” ungkapnya.

Seiring waktu, Tari merasa perlakuan tersebut semakin melewati batas. Ia mengaku kerap diajak mengikuti kegiatan ziarah dan salawatan, baik secara berkelompok maupun hanya berdua dengan pelaku. Dalam kesempatan itu, korban mulai diminta melakukan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.

Salah satu alasan yang disebut sering digunakan pelaku adalah dalih pengobatan spiritual. Tari mengaku diarahkan untuk mengikuti berbagai permintaan dengan alasan demi penyembuhan penyakit batin dan proses pembinaan rohani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Di sana kan ada guru tarikah. Bilangnya disuruh guru tarikah. Bagian dari nyembuhin sakit,” kata Tari.

Ia juga mengaku sering diberi sugesti bahwa dirinya memiliki banyak sifat buruk sehingga harus menjalani “pengobatan” tertentu.

Halaman Selanjutnya

“Kamu itu banyak penyakitnya, obatnya harus gini,” ujar Tari menirukan perkataan pelaku terkait alasan tidur bersama tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |