Jakarta, VIVA – Kemampuan bahasa Inggris akademik kini menjadi salah satu syarat penting bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, mengikuti program beasiswa, hingga pertukaran pelajar internasional. Seiring meningkatnya kebutuhan tersebut, sistem asesmen bahasa Inggris juga mulai mengalami penyesuaian agar lebih relevan dengan pola komunikasi global saat ini.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan TOEFL Experience Day yang digelar oleh Educational Testing Service bersama Indonesian International Education Foundation di Jakarta. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Acara yang berlangsung di The Ritz-Carlton Jakarta tersebut mempertemukan tenaga pendidik, konselor pendidikan, institusi, hingga pemangku kepentingan pendidikan untuk membahas perkembangan terbaru tes TOEFL iBT dan tantangan komunikasi akademik di era global.
Dalam forum tersebut, ETS memperkenalkan pembaruan TOEFL iBT 2026 yang menghadirkan sejumlah perubahan, mulai dari sistem penilaian baru berskala 1-6, desain tes yang lebih adaptif, hingga penyesuaian materi yang dinilai lebih dekat dengan kebutuhan komunikasi akademik masa kini.
Perubahan ini disebut sebagai respons terhadap perkembangan dunia pendidikan yang semakin digital dan kolaboratif. Tes bahasa Inggris kini tidak hanya mengukur kemampuan tata bahasa atau pemahaman teks, tetapi juga kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif di lingkungan akademik internasional.
“Pendidikan dan komunikasi berkembang dengan sangat cepat, sehingga asesmen juga perlu ikut beradaptasi. Melalui pembaruan TOEFL iBT 2026, kami ingin menghadirkan pengalaman asesmen yang lebih relevan dengan keterampilan komunikasi masa depan yang mencerminkan cara pelajar belajar serta berkomunikasi di lingkungan akademik saat ini,” ujar Sidnei De Souza, Executive Director, Global Partnerships and Sales Management, ETS, dalam keterangannya, dikutip 23 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut Sidnei, format baru TOEFL iBT juga akan menghadirkan tipe-tipe tugas yang lebih autentik. Peserta nantinya tidak hanya diuji melalui soal konvensional, tetapi juga simulasi komunikasi yang umum terjadi di dunia akademik dan profesional, seperti menulis email hingga sesi wawancara.
Perubahan tersebut dinilai penting karena tren penggunaan sertifikat bahasa Inggris kini semakin luas. Jika sebelumnya lebih identik dengan syarat studi luar negeri, kini sertifikasi bahasa Inggris juga banyak digunakan untuk kebutuhan beasiswa, mobilitas akademik, hingga peluang pendidikan internasional lainnya.
Halaman Selanjutnya
“Saat ini kami melihat penggunaan sertifikat bahasa Inggris semakin berkembang, tidak hanya untuk kebutuhan studi luar negeri, tetapi juga untuk program beasiswa, pertukaran pelajar, dan berbagai jalur pendidikan internasional lainnya. Di saat yang sama pelajar juga semakin mempertimbangkan asesmen yang fleksibel dan relevan dengan kebutuhan komunikasi modern,” ujar Diana Kartika, Executive Director, IIEF.

6 hours ago
2
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)