Solusi Keberlanjutan MBG Di Tengah Tekanan Fiskal, Ekonom Usulkan Penyesuaian Frekwensi

5 days ago 3

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:15 WIB

Jakarta, VIVA – Sejumlah pihak mempertanyakan keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di tengah tekanan terhadap kondisi fiskal dan tuntutan efisiensi anggaran yang sedang digalakkan oleh pemerintah saat ini.

Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono mengatakan, untuk memastikan program ini berjalan beriringan dengan stabilitas keuangan (fiskal) nasional, Dia mengusulkan adanya langkah penyesuaian yang cerdas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Alih-alih mengurangi jangkauan wilayah atau hanya menyasar anak dari keluarga ekonomi kelas menengah ke bawah, Riandy menyarankan penyesuaian frekuensi pemberian makan sebagai solusi untuk menjaga kredibilitas anggaran.

"Agar anggaran tetap sehat dan risiko rating kredit (Indonesia) terjaga, pemerintah bisa mengambil jalan tengah dengan mengatur frekuensi, misalnya dari 6 hari menjadi 3 atau 4 hari seminggu," kata Riandy dalam keterangannya, Jumat, 8 Mei 2026.

Ilustrasi dapur MBG atau SPPG

Menurutnya, langkah ini jauh lebih aman daripada mengubah total struktur program yang sudah berjalan, sehingga manfaat ekonomi bagi pekerja dapur dan penyedia bahan pangan tetap terjaga.

Selain efisiensi anggaran, Riandy juga menekankan pentingnya menjaga kualitas nutrisi, sebagai investasi SDM jangka panjang. Dia pun mendorong pemerintah untuk memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan, guna memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar sampai dalam bentuk asupan bergizi bagi siswa.

"Pemerintah perlu memperkuat pola random check atau sidak lapangan, untuk memastikan standar kualitas tetap terjaga. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dapur akan menjadi kunci keberhasilan MBG ke depannya," ujarnya.

Selain itu, meski dampaknya terhadap produktivitas tenaga kerja baru akan terasa di masa depan, MBG dianggap sebagai langkah awal yang baik untuk meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. Riandy meyakini, jika dikelola dengan manajemen yang tepat, MBG dapat menjadi bagian dari ekosistem pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tapi lagi-lagi, jangan diharapkan MBG ini bisa kemudian memutar roda perekonomian sampai 8 persen, akan sulit dibayangkan," kata Riandy.

"Karena untuk menggerakkan ekonomi, butuh mesin-mesin ekonomi baru, tidak hanya mengandalkan sektor pertanian. Perlu ada sektor-sektor yang lain yang perlu digenjot. Jadi jangan mengandalkan MBG sendirian untuk strategi pertumbuhan, sehingga kita jor-joran ke pertanian," ujarnya.

Kerja sama Pertamina dan BGN.

Pertamina dan BGN Sinergikan Pasokan Minyak Jelantah Jadi Energi Rendah Karbon untuk Bahan Bakar Pesawat

PT Pertamina (Persero) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menandatangani Nota Kesepahaman sebagai langkah strategis dalam pengembangan ekosistem energi berkelanjutan

img_title

VIVA.co.id

8 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |