Kamis, 26 Maret 2026 - 14:05 WIB
Jakarta, VIVA – Krisis energi global imbas konflik Timur Tengah kini mulai terasa langsung di kehidupan sehari-hari masyarakat Asia. Salah satu dampak paling nyata terjadi di Filipina, di mana lonjakan harga bahan bakar memicu aksi mogok massal para pekerja transportasi.
Ratusan sopir di ibu kota Manila turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga solar dan bensin yang disebut telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak perang Iran pecah pada 28 Februari.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Seorang sopir berusia 62 tahun menggambarkan kondisi yang dihadapinya semakin sulit. Ia mengatakan tidak memiliki cukup makanan untuk menghidupi lima anaknya dan belum menerima bantuan tunai dari pemerintah.
“Saya tidak dapat bantuan, tidak ada penghasilan, tidak ada makanan untuk keluarga,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari BBC, Kamis, 26 Maret 2026.
Aksi mogok ini dipimpin oleh koalisi serikat transportasi Piston, yang mengajukan sejumlah tuntutan mulai dari penghapusan pajak bahan bakar, penurunan harga minyak, hingga intervensi negara dalam sektor energi. Mereka juga menuntut kenaikan tarif angkutan dan upah bagi para pengemudi.
Para pengemudi jeepney, angkutan umum khas Filipina, menjadi kelompok paling terdampak. Selain itu, pengemudi ojek online dan kendaraan pribadi juga ikut menyuarakan protes.
Banyak di antara mereka mengaku belum menerima bantuan sebesar 5.000 peso yang sebelumnya dijanjikan pemerintah. Salah satu pengemudi lain, Anjo Lilac, bahkan membawa anaknya ke lokasi aksi karena tidak ada yang menjaga di rumah.
Ia berharap bantuan pemerintah dapat digunakan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, sewa rumah, hingga susu bayi. Keluhan serupa juga disampaikan sopir lain yang menyebut situasi ini seperti “dicekik”.
“Kami tidak tahu dari mana mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga,” katanya. Ia menegaskan bahwa solusi utama bukan bantuan tunai, melainkan penurunan harga kebutuhan pokok seperti bahan bakar, listrik, dan air.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di sisi lain, dampak mogok mulai dirasakan masyarakat. Warga Manila yang dikenal menghadapi kemacetan parah kini harus mengantre untuk mendapatkan transportasi gratis yang disediakan pemerintah.
Seorang pekerja bernama Arnold Irinco mengaku menunggu hingga 30 menit, namun tetap memahami alasan para sopir melakukan aksi. “Saya mengerti apa yang mereka perjuangkan. Ini soal mata pencaharian mereka,” ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menetapkan status darurat energi nasional untuk merespons ancaman terhadap pasokan bahan bakar. Pemerintah juga diberi kewenangan untuk mengambil langkah cepat, termasuk membeli langsung minyak dan memastikan distribusi kebutuhan pokok seperti pangan dan obat-obatan tetap berjalan.

2 hours ago
3











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)


